Jumat, 06 April 2012

Iri hatiku




Assalamu'alaikum sahabat fillahku....

Banyak orang bilang iri itu tanda tak mampu....hehe.....^_^

kalau menurutku itu benar jg lho....tapi dlm hal apa dulu...krn aku iri padamu dlm hal...

disaat yg lain sibuk memilih model baju dr yg cuma kaos smpe yg terlihat perut dan pahamu terlihat...tp kau malah asyik dg membalut tubuhmu dg hijabmu...jelas aku iri krn aku masih suka dg bisikan syaeton yg menghasutku tuk memamerkan tubuhku pd yg bukan muhrimnya

disaat orang lain menyibukan dg dunianya kau malah asyik dg menyibukan diri bermunajat.,jelas aku iri krn aku blm mampu sprtmu...

disaat org lain sibuk dg pesta ultah dan shopping dimall,tp kau malah asyik dg dzikir dan berpuasa.,jelas aku iri krn aku masih blm bisa lepas dari kehdpn diluar sana yg memabukan...

disaat yg lain berfoya2 bila hbs dpt rizki ato dpt gaji...kau lbh suka bila ada kelebihan uang dg menyantuni anak yatim...jelas aku iri bkn krn tak mampu dg keuangan tp ku blm mampu sprtmu dlm sgala hal...

itulah iriku krn ketdk mampuanku yg sprt kau miliki wahai wanita muslimah....

sabar






      ~~**~~  4 Mutiara Sabar  ~~**~~
           ~~~________________~~~~~


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Bismillahirrahmanirrahiim

“Sungguh fenomena orang beriman segalanya mengagumkan, Allah tidaklah menetapkan baginya suatu keputusan kecuali kebaikan; bila di timpa musibah ia bersabar, maka kebaikan baginya. Dan bia di beri rezeki ia pun bersyukur, maka kebaikan pula baginya”. (HR. Muslim)

Hidup adalah perjuangan! Begitulah pepatah mengatakan. Mereka yang berjuang penuh kesabaran, itulah para pejuang sejati. Mereka yang hidupnya di bingkai dengan kesabaran, itulah orang-oang sukses. Mereka menghadapi berbagai kesulitan hidup dengan lapang dada, tidak mudah menyerah dan penuh percaya diri. Menghiasi diri dengan sikap sabar adalah akhlak orang-orang mulia.

Al-Quran sendiri menyebut kata “Shobr” atau sabar –dalam bermacam bentuk—sebanyak seratus tiga kali! Hal ini menandakan keutamaan sikap sabar. Ibnu Abbas pernah berkata, “Sebesar apa al-Quran memperhatikan sesuatu, sebesar itu pula kita respek terhadapnya”. Adapun mutiara sabar dalam al-Quran maha luas. Empat diantaranya akan kita selami bersama.

Pertama, bahagia. Anugerah kebahagiaan adalah segalanya dalam kehidupan. Untuk meraihnya bermacam cara dilakukan. Yang paling menonjol, menumpuk harta. Demi harta mereka rela binasa. Padahal, setelah meninggal dunia mereka tidak bisa membawanya. Bahkan, menjadi pemicu petumpahan darah antar saudara dan keluarga. Ketahuilah, harta yang dimiliki adalah milik-Nya dan akan dikembalikan kepada-Nya.

Sikap sabar akan membawa kita pada satu titik, dimana seseorang merasa lega dan rela apapun yang menimpa dirinya. Ia tidak gelisah dengan musibah, tidak gundah dengan himpitan hidup, dan tidak resah dengan cobaan dan ujian. Bila sikap ini dipelihara kebahagiaan akan mudah diraih, karena orang yang bersabar pasti bahagia. “Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-oang yang sabar. (Yaitu) orang-oang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali”. (QS. 2:156)

Kedua, optimis. Dengan sabar kita bersemangat jalani roda kehidupan. Sabar membuat seseorang optimis dengan apa yang di janjikan Allah padanya. Optimis Allah cinta padanya. Optimis hanya kebaikan yang menimpa dirinya. Optimis setelah bersabar akan datang pertolongan. Dan optimis setelah susah akan raih kemudahan.

Bila ditimpa musibah ia optimis bahwa itu ujian dari Allah. Sabar menjalani, semangat mengarungi dan pantang untuk menyerah. Ia yakin, dengan bersabar dapat segera keluar dari segala cabaran dan cobaan. “Maka bersabarlah kamu, sungguh janji Allah adalah benar, dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu”. (QS. 30:60)

Ketiga, kesuksesan. Selain bahagia dan optimis, sabar akan membawa kepada kesuksesan hidup. Seorang yang sukses adalah sosok penyabar sejati. Setelah melewati gelombang, badai, onak dan duri ia menghirup udara segar, kesuksesan. “Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka di hari ini karena kesabaran mereka, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang”. (QS. 23:111)

Keempat, syukur. Syukur atas karunia Allah yang terhampar luas. Syukur atas kemenangan dan kesuksesan. Bersyukur kita bisa tetap optimis. Syukur karena kita bisa tetap istiqomah di jalan-Nya. Bersyukurlah. Karena sikap sabar terhadap nikmat yang banyak adalah bentuk syukur pada Sang Pemberi Nikmat. Sikap sabar tidak saja saat susah, namun saat senangpun mesti bersabar (baca: syukur). Syukur adalah satu dari sejuta mutiara sabar. “Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi si penyabar dan banyak bersyukur”. (QS. 14:15)

Bangsa kita yang terus mendapat ujian; kelaparan, ketakutan beragam bencana alam, himpitan ekonomi, penyakit sosial dan berbagai ujian lainnya amat memerlukan pribadi-pribadi mulia, pribadi penyabar. Robbanaa afrigh ‘alainaa shobron, “Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami”. (QS. 7:126). Inilah doa yang dilantunkan umat terdahulu saat diberi ujian oleh Sang Pencipta. Mereka meyakini, tanpa kesabaran ujian dan cobaan tidak akan berhasil dilalui. Sabar satu-satunya sikap untuk menata kehidupan, karena ia mutiara berkah, mutiara rahmat dan mutiara petunjuk. “Mereka itulah oang-orang yang mendapat berkah nan sempurna, rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. 2:157)

semoga bermanfaat dan bisa menambah keimanan kita dalam mendekatkan diri kepada sang khalik...silahkan saling berbagi dan bantu sesama teman yang membutuhkan,tak lupa salam santun ana tuk smua sahabat bagi yang mau add akun ana silahkan add yang baru karena yang ini sdh full tak bisa add lg...jd silahkan add yg ini..

http://facebook.com/shalsyabela.fahdillaputyr

===============================

Kamis, 05 April 2012

Rukun Iman








Rukun Iman itu ada 6:

Yang pertama, beriman kepada Allah
Maksudnya apa?
Maksudnya adalah kita beriman kepada adanya Allah dan beriman kepada keesaan-Nya di dalam sifat serta peribadahan kita kepadanya.

Yang kedua, beriman kepada Malaikat
Artinya apa?
Artinya kita mengimani adanya makhluk ciptaan Allah dari cahaya untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya. Nah makhluk-makhluk ini disebut dengan malaikat

Yang ketiga, beriman kepada Kitab
Apa saja kitab-kitab yang Allah perintahkan untuk kita imani?
Kitab-kitab tersebut adalah Kitab Taurat, Injil, Zabur, serta Al-Quran yang merupakan kitab suci yang paling mulia.

Yang keempat, beriman kepada Para Rasul
Rasul yang pertama adalah Nuh dan yang terakhir adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wassallam.

Yang kelima, beriman kepada Hari Akhir
Hari akhir itu apa sih?
Hari akhir itu maknanya hari perhitungan, dimana amalan-amalan manusia diperhitungkan.

Dan yang terakhir, yang keenam, beriman kepada takdir, baik maupun buruk.
Keimanan kita terhadap takdir ini kita iringi dengan mengambil sebab dan ridha dengan takdir baik maupun jelek karena itu semua karena takdir Allah

wanitaku




                      ~~** ~~ Untukmu Wanitaku ~~**~~


Wanita..

Apa yang engkau pikirkan ketika kau tak mau beranjak pada perubahan?Perubahan yang sebenarnya mampu menjadikanmu sebagai wanita muliaApa yang membuatmu enggan shalat 5 waktu...?
Bukankah Rasulullah pernah berkata bahwa shalat adalah tiang agama...?
Mampukah sebuah rumah tegak, Tanpa adanya tiang sebagai penyangga, Agar ia mampu berdiri tegak, Layaknya sebuah rumah yang bisa dihuni...?

Hhh.. sy jadi teringat seuntai kata bijak “ walaupun hidup 1000 Th kalau tdk shalat apa gunanya”Semoga engkau tak lupa dengan kekata bijak itu.Ataukah...???
Semua surat didalam Alqur’an terlewatkan olehmu untuk memahaminya...?

Wanita..

Apa yang engkau pikirkan saat engkau enggan menutup auratmu?
Padahal zat yang menciptakanmu telah memuliakan dan memberi penghormatan kepadamuDengan memerintahkanmu untuk  menutup seluruh tubuhmu(kecuali yang biasa tampak yaitu muka & telapak tanganmu)?
Terlewatkah oleh mu surat An-Nur ayat 31 dan surat Al-Ahzab ayat 59
Ketika engkau mengkhatamkan Alqur’an-mu?
Ataukah engkau lupa mempelajari makna yang terkandung didalamnya?
Lupakah engkau sang penyampai cahaya Allah mengatakan  Bahwa seluruh tubuhmu adalah aurat?
Setiap engkau sudah berada di pintu rumahmu kala hendak keluar Syetan sudah menunggumu..!!!
 menantimu dengan H2C(harap2 cemas)Jika engkau menampakkan auratmu, syetanpun akan tertawa dan sangat bahagia Dan siap menjebakmu dengan perangkap yang justru akan menghinakanmu Tapi sayang engkau tak pernah menyadari itu.
Ataukau engkau tidak tahu? Rasulullah pernah mengatakan bahwa wanita yang berpakaian tapi telanjang Tidak akan pernah mencium wangi syurga, padahal wangi syurga dapat tercium dalam radius 1000 tahun perjalanan.?

Wanita...

Apa yang engkau pikirkan saat engkau memilih untuk berpacaran?
Tahukah engkau? Bahwa engkau telah menghinakan dirimu sendiri?
Engkau halalkan (maaf) ciuman bagi seseorang yang belum halal bagimu
Engkau halalkan dia memegang tanganmu, memelukmu
Padahal sungguh dia adalah seseorang yang haram bagimuTerlewatkah surat Al-Isra’ ayat 32 Saat kau khatamkan Alqur’anmu...?
Atau engkau enggan mengetahui maknanya?Lupakah engkau kekasih Allah pernah menyampaikan“ Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, mk janganlah berkhalwat(berdua2an) dengan seorang wanita, sedangkan wanita itu tidak disertai mahromnya karena sesungguhnya yang ke 3 nya adalah syaitan”(HR.AHMAD)

Wanita..

tolong jangan hinakan dirimu seperti itu Engkau terlalu istimewa jika disentuh oleh laki2 asingEngkau terlalu istimewa... sadarkah engkau..?

Wanita...

saya tidak ingin memaksamu...Terserah engkau mau memilih yang mana Tohh dirimu sendiri yang akan merasakan panasnya neraka atau nikmatnya syurga.Saya hanya berusaha memberi nasihat kepadamu Bahwa engkau diciptakan Allah pada dasarnya adalah seorang manusia yang ‘spesial’Spesial karena engkau adalah sebaik2 perhiasan dunia Tapi jika engkau seorang wanita yang sholehah.Jika engkau bukan wanita shalehah.. Maap.. maap saja engkau tidak masuk dalam kategori!

Wanita...

Jika engkau enggan menerima nasihat iniSetidaknya engkau tidak enggan menunaikan perintah AllahDan tidak enggan meninggalkan laranganNya.  Cobalah engkau kaji dari orang lain, jangan pedulikan nasehatku ini.Ingat..!!! bahwa ALLAH sebaik-baik PEMBERI BALASAN!Tidak luput dari perhitungan Allah semua perbuatanmu...
Walaupun hanya sebesar biji sawi/atom/dzaroh..Sekecil apapun perbuatanmu, pasti akan mendapat balasan, CAMKAN itu!

Wanita..

Kata2 ini, bukanlah dari sosok yang suci, Bukan pula dari sosok yang tidak pernah berbuat salah, yang terbebas dari dosa Dia hanyalah sosok sepertimu juga Seorang wanita akhir jaman Seseorang yang menginginkan perubahan darimu Perubahan ats dirimu agar engkau mencintai Allah dan RasulNya.

Wanita...

andai engkau memahami isi hatiku Betapa aku menyayangimu...
Sayang yang tak terkira...Wanita...
sungguh saya hanya ingin mengajakmu Meniti jalan ke syurga bersama-sama.Hanya itu inginku...
andai engkau mau memahaminya.
Wanita...Rasa sayang bukanlah ketika dia membiarkanmu dalam perbuatan maksiat Bukanlah ketika dia selalu setuju dengan segala kemaksiatanmu.Rasa sayang sejati terpancar ketika dia menasehatimu, melarangmu agar engkau tak melakukan kemaksiatan yang mungkin saja tak kau sadari, bahwa itu adalah kemaksiatan.

footnote : Special for someone special in my heart Biarkan Allah mempersatukan kita di JannahNya kelak. Aamin. Love u coz Allah
         
* Saat hati menginginkan perubahan dari orang2 yang disayanginya.*

Selamat pagi wanitaku....salam santunku tuk smua sahabat...(^_^)

negri impian



KAUM BERAGAMA NEGERI INI


Tuhan, lihatlah betapa kaum beragama negeri ini
mereka tak mau kalah dengan kaum beragama lain
di negeri-negeri lain,
demi mendapatkan ridha Mu
mereka rela mengorbankan saudara-saudara mereka
untuk berebut tempat terdekat di sisi Mu


mereka bahkan tega menyodok dan menikam
hamba-hamba Mu sendiri
demi memperoleh rahmat Mu
mereka memaafkan kesalahan
dan mendiamkan kemungkaran
bahkan mendukung kelaliman
untuk membuktikan keluhuran budi mereka
terhadap setanpun mereka tak pernah berburuk sangka



Tuhan, lihatlah betapa baik kaum beragama negeri ini
mereka terus membuatkan Mu rumah-rumah mewah
di antara gedung-gedung kota
hingga tengah-tengah sawah
dengan kubah-kubah megah dan menara-menara menjulang
untuk meneriakkan nama Mu


menambah segan dan keder hamba-hamba kecil Mu
yang ingin sowan kepada Mu
nama Mu mereka nyanyikan dalam acara hiburan
hingga pesta agung kenegaraan
mereka merasa begitu dekat dengan Mu
hingga masing-masing merasa berhak mewakili Mu
yang memiliki kelebihan harta membuktikan



kedekatannya dengan harta yang Engkau berikan
yang memiliki kelebihan kekuasaan membuktikan
kedekatannya dengan kekuasaan yang Engkau limpahkan
yang memiliki kelebihan ilmu membuktikan
kedekatannya dengan ilmu yang Engkau karuniakan
mereka yang Engkau anugerahi kekuatan






seringkali bahkan merasa diri Engkau sendiri
mereka bukan saja ikut menentukan ibadah
tapi juga menetapkan siapa ke sorga siapa ke neraka
mereka sakralkan pendapat mereka
dan mereka akbarkan semua yang mereka lakukan
hingga takbir dan ikrar mereka
yang kosong bagai perut bedug

kisah nyata pernikahan polygami




Kisah Nyata: Inilah Drama Pernikahan Poligami yang Sempurna dan Sangat Mengharukan
------------------------------------------------------------------
Oleh Moeflich Hasbullah



Inilah kisah nyata drama kehidupan yang sangat mengharukan yang patut menjadi renungan, pelajaran dan contoh bagi kita semua. Sahabat dekat saya seorang yang sangat tulus dan ikhlas dalam berdakwah. Sebut saja namanya Ahmad. Usianya masih muda, baru 40 tahun. Dari orang-orang yang saya kenal, belum pernah saya menemukan orang seikhlas dan setulus dia dalam berbuat amal dan kebaikan. Ia tidak pernah merasa dirinya ustadz, tapi jama’ahnya memanggilnya begitu.



Ia berkeliling ke kampung-kampung, dari satu daerah ke daerah lain di Jawa Barat, dari Indramayu hingga Lebak, Banten, mengajak orang pada kesadaran agama dan kini jama’ahnya sudah ribuan. Bedanya dengan ustadz-ustadz lain yang kita kenal adalah bila mereka diundang ke masjid-masjid besar di kota, diundang ke Jakarta, dzikir nasional, datang berduyun-duyun, ustadznya berdiri di mimbar dan duduk di ruang yang nyaman, disorot televisi, populer dan dibayar. Ustadz yang satu ini, jauh dari suasana itu.


Ia sendirilah yang datang berkeliling ke daerah-daerah dan kampung-kampung serta pelosok. Dialah yang mendatangi jama’ahnya sendirian tanpa ada yang membiayainya sepeserpun. Hotelnya adalah masjid, surau, tajug atau langgar. Ustadz muda ini membangun jama’ah yang bernama Jama’ah Taushiyah Syaghafan, pusatnya di Bandung. Ia tidak mau dikenal orang, dipuji dan menjadi populer. Popularitas baginya adalah godaan besar dalam berdakwah dan telah banyak merusak niat, mengotori hati dan membelokkan manusia dari keikhlasan berdakwah. Secara rutin, ia mengunjungi dan membina jama’ahnya di kampung-kampung. Tapi jangan salah, jama’ahnya bukan hanya orang-orang kecil. Kelas menengah, orang-orang kaya dan pejabat tinggi juga ada.


Dalam berdakwah, prinsipnya tak pernah mau dibayar sepeserpun. Uang puluhan juta sebagai amplop atau ucapan terima kasih, bahkan mobil dan rumah sebagai hadiah atau penghargaan lain dari orang-orang kaya yang disadarkannya dalam agama semuanya ia tolak. Padahal, ia orang yang kekurangan, jarang punya uang disakunya. Hidupnya benar-benar sederhana dan bersahaja. Penampilan biasa seperti pemuda kebanyakan. Memakai kaos atau kemeja dan tidak memakai asesoris keulamaan. Jauh dari kesan seorang Ustadz atau orang yang punya banyak kelebihan.


Ia sangat berpengaruh pada jama’ah yang dibinanya. Tangisan dan uraian air mata jama’ah adalah biasa saat mendengarkan nasehat-nesehat dan wejangan-wejangannya tentang kehidupan sehari-hari tapi menyentuh. Selain menyadarkan orang, ia juga membantu menyelesaikan masalah-masalah jama’ahnya dengan jalan keluar yang konkrit, tidak hanya nasehat dan anjuran seperti para mubaligh dan ulama lain. Ia juga mengobati berbagai penyakit pada orang yang ia tahu harus dibantu. Ia kuat tidak tidur dan menahan lapar berhari-hari. Ia mengetahui mana makanan yang bisa dimakan olehnya dan mana yang tidak. Itulah kekuatannya dan itulah yang membuatnya berpengaruh pada jama’ahnya, berpengaruh saat memberikan nasehatnya. Ia seorang hamba Allah yang sangat langka dan patut dicontoh. Dibawah ini adalah salah satu kisah menarik bagaimana ia menjawab persoalan jama’ahnya yang dipecahkannya secara konkrit.



* * *

Suatu siang di bulan Desember 2008, di salah satu kumpulan jama’ahnya di sebuah kampung di daerah Subang utara, Jawa Barat, setelah selesai pengajian rutinnya yang saat itu membahas bagaimana membangun keluarga Muslim yang sakinah, ada seorang jama’ah, seorang Bapak berusia sekitar 55 tahun, sebut saja namanya Pak Hasan, ia memohon Ustadz Ahmad untuk bertandang silaturahmi ke rumahnya. Ustadz itu memenuhinya. Ia berniat meneruskan pengajiannya dengan satu dua orang yang masih mengikutinya di rumah Pak Hasan untuk melakukan pembinaan. Hal itu sudah biasa ia lakukan. Setelah pengajian, tidak langsung pulang, melainkan meneruskan pendalaman, bila perlu seharian tau dua hari dan sering tanpa makan. Setelah berada di rumahnya dan air minum tersedia, Pak Hasan membuka pembicaraan pelan-pelan. Seperti ada persoalan berat yang ingin ia tanyakan.
“Pak Ustadz boleh saya menanyakan sesuatu?”
“Ya, masalah apa Pak?”


Sambil agak malu-malu, ia bertanya, “Begini Pak Ustadz. Tadi Pak Ustadz menyinggung juga sedikit masalah poligami yang benar menurut tuntunan agama. Terus terang, ini nyambung dengan yang ada di hati saya. Saya kebetulan berniat menikahi seorang perempuan di desa ini. Saya sudah dekat dengan dia dan bersilaturahmi kepada orang tuanya. Orang tuanya sudah tahu dan menerima niat saya. Tapi, saya bingung menghadapi istri saya. Ia pasti akan menolak dan tidak menyetujuinya. Saya mohon nasehat Ustadz, gimana sebaiknya ya Pak? Saya bingung.”


Ustadz sahabat saya ini segera paham, ia berniat poligami. “Pak, poligami dibolehkan dalam agama. Tapi harus hati-hati, harus benar-benar menjaga niatnya. Niat, cara dan tujuannya harus benar. Naah, niat dan tujuan Bapak menikahi perempuan itu apa? Jangan karena nafsu, hanya karena cantik, menarik, dan perempuannya mau. Atau karena merasa Bapak banyak uang, nanti akan kacau rumah tangga Bapak.”


“Begini Pak Ustadz. Niat saya ingin menolong perempuan itu. Orangnya baik, shaleh, dari keluarga sederhana. Usianya sekitar 36 tahun tapi belum menikah juga. Saya ingin membantunya dengan sekalian saja menikahinya. Insya Allah, saya niatkan sebagai ibadah. Dengan pandangan yang sama bahwa nikah itu ibadah, dia mau menjadi istri kedua, dia siap. Saya juga Insya Allah mampu. Kan tidak salah Pak Ustadz?” Katanya sambil agak malu-malu. “Tapi, bagaimana menghadapi istri saya menurut Ustadz? Dia pasti menolaknya.”


Ustadz ini kebetulan memiliki kemampuan istimewa. Ia seorang yang kasyaf secara ruhani. Atas kemampuan bacaan ruhani seorang mukasyafah, orang modern menyebutnya “the six sense.” Ustadz ini bisa melihat aura seseorang dengan mudah. Dari auranya, ia bisa mengetahui karakter asli seseorang termasuk bohong tidaknya. Aura si Bapak ini bagus, orangnya jujur, agamanya bagus, mendidik istri dan keluarganya juga bagus. Ia berwibawa di hadapan istrinya dan istrinya pun hormat padanya. Ustadz itu tahu, orang ini perlu dibantu. Aura rumahnya pun bagus, ia membaca ada kelancaran atas niat si bapak ini. Disisi lain, si Bapak ini orang berada, kehidupan ekonominya maju.



“Eemh… sebuah niat yang baik dan mulia. Kalau benar niat Bapak seperti itu kenapa harus takut? Masalahnya, bingung menghadapi istri ya Pak? Hehehe … Begini saja, tolong panggil istri Bapak kesini. Insya Allah ada jalan keluarnya.” Dengan senang, deg-degan dan agak takut, si Bapak menuruti. Ia memangggil istrinya ke hadapan Ustadz itu. Setelah berada di ruang tamu, Ustadz menyapa si Ibu yang tadi siang juga hadir di pengajiannya:
“Buu… saya mau bicara, tidak mengganggu kan? Bisa kan Ibu duduk disini?”
“Iya, Pak Ustadz.” Jawab si Ibu yang telah menjadi jama’ahnya rutinnya.


“Begini Bu, jangan kaget yaa… Ibu tenang saja, jangan emosi, ada saya disini. Ada kabar yang mungkin mengagetkan dan tidak enak buat Ibu. Tapi, segala sesuatu bisa dimusyawarahkan dengan baik. Buu…, tadi saya mendengar sendiri dari Bapak. Bapak, suami Ibu ini, punya niat menikahi seseorang. Niatnya baik dan mulia, ia ingin membantunya menolong orang itu. Niat baik itu tidak boleh dihalangi. Menghalangi niat baik seseorang bisa menjadi dosa buat kita. Nah, niat baik itu dari siapapun harus dibantu. Insya Allah menjadi ibadah buat kita selama kita ikhlas membantunya. Dalam hal niat bapak ini, ibu pasti berat, tapi disitulah nilai ibadahnya. Berbuat ikhlas itu berat tapi disitulah keutamaaanya. Nah, bagaimana pandangan dan sikap Ibu? Silahkan jujur dan terbuka disini. Mumpung ada saya, silahkan ungkapkan hati Ibu apa adanya kepada Bapak. Jangan merasa ada paksaan dan jangan merasa terpaksa.” Kata Ustadz meyakinkan.



Si Ibu tentu saja kaget luar biasa. Jantungnya berdetak keras. Ia seperti kena halilintar di siang bolong mendengar penjelasan itu. Tapi, Ustadz itu sangat dihormatinya dan telah mempengaruhi jiwa dan kesadaran agamanya. Pengajiannya selama ini banyak menyadarkan jama’ahnya bagaimana beragama yang benar. Ia sering sekali menekankan pentingnya ikhlas dalam menjalani hidup, menghadapi cobaan dan dalam beribadah. Penjelasannya sederhana tapi menyentuh. Banyak jama’ahnya yang ingin benar-benar berubah.
Si Ibu benar-benar bingung dan berat menjawabnya.
“Pak … secara syari’at, Mamah tuh gak ada masalah, Mamah nerima itu ketentuan Allah !! Tapi, hati ini gimana yaa..” katanya berat. “Pak, Bapak tuh benar begitu… ? Mencari apalagi sih Pak? Bapak itu ekonomi sudah maju, harta banyak, ke haji sudah, anak-anak sudah punya, mencari apalagi Paaak…?”


Setelah istrinya menjawab, Pak Hasan mengulangi mengutarakan niatnya. Mereka berdua saling jawab, berdialog. Ustadz membiarkan mereka berkomunikasi secara terbuka dan murni tanpa ada rekayasa.
“Bu… tadikan saya sudah membantu menyampaikannya pada Ibu. Bapak sudah mengutarakan niatnya,” sela Ustadz Ahmad, “Insya Allah niat Bapak memang baik. Tapi ingat, Ibu menjawab jangan karena saya. Harus benar-benar jujur yang keluar dari hati ibu. Saya disini hanya membantu saja agar Ibu mengetahuinya. Jangan ada kebohongan dalam rumah tangga. Bisa celaka. Bisa ada akibat yang tidak diinginkan bila bapak memendam niatnya dan tidak terus terang kepada Ibu. Makanya, saya memanggil Ibu. Inikan lebih baik daripada Bapak nanti main belakang. Ya kan Bu?”
“Iya Pak Ustadz.”


Kebetulan, istrinya ini seorang istri yang baik. Suaminya juga sama, memiliki wibawa di depan istrinya. Pak Hasan membimbing agama di keluarganya dengan baik. Secara ekonomi, selama ini si Ibu dan anak-anaknya tidak merasa kekurangan bahkan terbilang lebih dibanding tetangganya sekitarnya. Pengaruh Ustadz itu disitu mengendalikan suasana menjadi terbuka, terus terang dan terkendali. Tidak ada luapan emosi dan kemarahan.


“Maafin Bapak ya Mah… Bapak tidak berniat mengurangi kasih sayang dan perhatian pada Mamah dan keluarga. Tidak. Bagi Bapak, Mamah dan anak-anak tetap nomor satu. Bagi Bapak, keluarga adalah harta yang sangat berharga. Bapak sayang sama Mamah dan anak-anak. Bapak tergerak hati untuk menolongnya. Kebetulan dia mau. Jadi syukur, tidak juga tidak apa-apa. Bapak terserah takdir Allah saja. Niat Bapak mudah-mudahan menjadi ibadah. Mamah ridha kan…?? Gimana Mah, Mamah mengizinkan tidak?”


Si Ibu itu tampak diam, perasaannya berat dan matanya mulai berkaca-kaca.
“Jadi gimana Buu…? Ibu menerima?” Ustadz menegaskan lagi perlahan.
Sambil berharap-harap cemas, suaminya juga mengulanginya lagi:
“Gimana Mah, keberatan tidak?”


Tiba-tiba, “Khuaa…huu…huu…” Istrinya menangis di pangkuan suaminya, ia meraung dan terisak. Melihat itu, si Bapak pun tak kuat membendung air matanya. Ia pun menangis sambil memeluk istrinya. Keduanya menangis dalam pelukan haru mengekspresikan isi hatinya yang berat. Ustadz pun tak kuat menahan perasaannya. Hati si Ibu tampak sangat berat, tapi ia sedang berjuang mengalahkan beban perasaannya. Dari auranya, Ustadz Ahmad membaca, istrinya ini adalah tipe istri yang taat dan hormat pada suaminya. Ustadz bergumam dalam hatinya: “Biarkan saja pada menangis, memang harus begini prosesnya.”


Setelah tangisnya agak reda, lama si Ibu masih belum menjawab. Lidahnya seolah terkunci. Ia berfikir dan perasaannya bercampur. Menjawab “tidak” ia segan pada suaminya dan khawatir menjadi masalah ke depannya. Sebagai istri, ia bergantung penuh suaminya. Suaminya selama ini adalah suami yang baik. Ia adalah pemimpin rumah tangga yang harus ditaati. Selama ini, ia tidak pernah membangkang. Buat apa rajin ke pengajian kalau ia menjadi seorang istri pembangkang. Ia takut durhaka. Ada juga bayangan ketakutan suaminya ini suatu saat main belakang dengan perempuan lain, bila ia menolaknya. Pikiran dan perasaannya berkecamuk. Ia juga merasa segan pada Ustadz Ahmad yang berwibawa yang telah menjadi penyambung lidah suaminya. Tapi, menjawab “iya,” hatinya merasakan berat. Suaminya dan Ustadz Ahmad masih menunggu. Setelah agak lama, Ustadz bertanya lagi perlahan, “gimana Bu? Ibu bersedia? Rela?”


Dalam kemelut fikiran dan isak tangisnya, akhirnya istrinya menjawab pasrah: “Pak Ustadz, saya pasrah saja pada suami saya. Saya taat pada Bapak sebagai pimpinan rumah tangga. Mudah-mudahan ini menjadi ibadah dan kebaikan saya di mata Allah.


“Benar bu yaa…?”
“Iya, Pak Ustadz.” Tensinya melemah.
“Yaa… syukurlah… kalau ibu bisa menerima kenyataan ini. Mudah-mudahan Ibu tabah dan kuat menghadapinya. Bu, hidup ini seringkali mengagetkan dan tidak seperti apa yang kita kehendaki. Allah saja sudah mengaturnya seperti itu. Nah, bisa tidak kita ikhlas menerima takdir Allah yang menimpa kita itu? Kalau ikhlas, Insya Allah menjadi ibadah, jaminannya pun Insya Allah surga. Tapi ingat, Ibu berharap ini menjadi ibadah bukan karena saya. Ibadah itu hubungan Ibu langsung dengan Allah. Saya do’akan, Insya Allah, ini menjadi kebaikan ibu karena ibu bisa mewujudkan keikhlasan yang berat ini. Bukan soal Bapak nikah laginya ini, tapi soal keikhlasan dalam urusan apapun.


“Bu,” sambung Ustadz lagi, “Ibu itu perempuan. Saya tahu, perasaan ibu berat walaupun ibu menyatakan ikhlas dan menerima.”

Ustadz Ahmad berfikir, untuk sementara biarlah tidak apa-apa. Wajar. Ikhlas itu memang berat. Tapi, justru disitulah nilai ibadahnya. Mengalahkan rasa berat yang mengganjal dihati demi kebaikan adalah perjuangan untuk mewujudkan keikhlasan. Itulah pengorbanan berat yang akan mendatang ridha Allah.


“Bu, istri-istri Rasulullah saja merasa berat dimadu. Mereka juga sama perempuan. Tapi mereka bisa mengalahkan perasaannya. Itulah contoh buat kita. Agama juga memerlukan pengorbanan rasa. Kalau tidak ada pengorbanan rasa tidak akan ada keagungan. Mengalahkan rasa berat dan berkorban perasaan demi kebaikan dan demi ketaatan kepada Allah adalah keagungan. Inti perjuangan itukan mengalahkan rasa berat, mengalahkan godaan, mengalahkan egosime. Kalau agama tanpa pengorbanan tidak akan ada ibadah, tidak akan ada perjuangan, tidak akan ada keutamaan. Itulah yang membuat kita tinggi dan mulai di sisi Allah SWT. Naah… mari, usaha mewujudkan keikhlasan dan tekad mengalahkan nafsu itu kita mulai sekarang mumpung ada kesempatan.


Jadikanlah ini sebagai ibadah ibu, justru ini ibadah ibu yang besar karena sanggup mengalahkan rasa berat. Ibu bisa saja menolak menjawab “tidak mau” untuk menuruti rasa panas hati ibu, tapi itu hati yang kerdil. Selama niat dan tujuan suami baik, bisa tidak kita justru membantunya bukan malah menghalanginya. Bapak caranya baik kepada Ibu dan ibu membalasnya juga dengan baik. Tanpa terasa, ini adalah saling memberi kebaikan antara Bapak dengan Ibu. Inilah suami istri yang diridhai Allah SWT.”


“Pak,” Ustadz Ahmad menggilirkan nasehatnya pada suaminya yang tampak sedang menyembunyikan rasa senangnya, “ingat Bapak jangan dulu senang dengan penerimaan istri Bapak. Tugas bapak justru lebih berat sekarang. Bapak harus menjaga niat, jangan sampai berubah. Sekali niat Bapak melenceng bukan karena Allah nanti akan menjadi nafsu. Nafsu menggoda kita dengan cara yang sangat halus, sangat tidak terasa. Niat yang lurus akan mengontrol Bapak dari melakukan kesalahan dan kekeliruan. Tapi dasarnya salah dan niatnya nafsu, akan menghancurkan kehidupan Bapak. Sudah banyak contoh Pak, orang yang poligami menjadi hancur keluarganya karena dasar dan niatnya salah. Bapak jangan membayangkan kesenangan, tapi tanggung jawab yang berat di hadapan Allah kelak bila Bapak tidak adil. Adil itu proporsional Pak, terutama dalam rasa, bukan materi. Bapak tidak mungkin adil dalam materi karena Bapak sudah lama berumah tangga dengan Ibu. Ibu sudah banyak menerima nafkah dan materi dari Bapak.


Tapi dalam rasa, Bapak harus menjaga keseimbangan. Momen yang baik sekarang ini harus menjadi langkah awal menciptakan keluarga yang lebih baik lagi, yang sakinah mawaddah warahmah. Ini harus menjadi langkah awal Bapak lebih baik lagi berkomunikasi dengan ibu, kalau perlu lebih harmonis lagi, lebih sayang dan lebih perhatian dari sebelumnya. Rumah tangga bapak yang sakinah harus dimulai dari pertemuan sekarang ini, karena langkah ini dimulai dengan cara yang baik. Tidak boleh lagi ada kebohongan atau dusta antara ibu dan bapak. Segalanya bicarakan dengan musyawarah. Jangan berat sebelah. Ingat, tanggung jawab Bapak sebagai kepala rumah tangga semakin berat dengan dua istri. Allah akan meminta pertanggungjawaban Bapak kelak.”


“Ibu,” kata Ustadz Ahmad lagi, “Ibu juga harus menerima kenyataan ini. Ibu harus membuktikan keikhlasan ibu, jangan hanya di mulut. Jangan hanya sekarang karena ada saya, kesananya tidak. Ibu sekarang tidak bisa merasa lebih memiliki Bapak. Ibu harus menerima kenyataan bahwa sekarang ada istri lain yang memiliki Bapak. Ada istri lain yang harus diperhatikan. Ibu harus menerima dan ikhlas dengan pergiliran waktu. Mari saling menjaga, saling memperhatikan, saling menyayangi, saling mengerti dan saling memaafkan diantara kita. Insya Allah rumah tangga Ibu dan bapak akan sakinah.” Sekitar 15 menit Ustadz Ahmad memberikan nasehat pada mereka berdua. Ustadz itu merasa sudah membawa mereka pada rumah tangga poligami, maka ia pun harus benar-benar membekalinya, tidak bisa asal-asalan, jangan kesananya jadi hancur. Mereka berdua khidmat mendengarkan, tidak berani menyanggahnya, karena memang tidak perlu ada yang disanggah.



* * *

Setelah menasehati panjang lebar, Pak Ustadz muda itu kemudian melangkah lagi satu langkah.
“Nah sekarang, calon istri bapak yang baru tolong bawa kesini. Yang manggilnya Bapak. Ibu disini.”
“Panggil Pak Ustadz?” kata suaminya.
“Iya panggil. Bapak harus menjemputnya dan membawanya kesini.”
Dengan air mata yang sudah mengering di wajahnya, si Bapak berdiri dan pamitan pada istrinya dan Pak Ustadz. Ia berjalan dengan hati yang bekecamuk, antara senang dan haru. Bebannya merasa telah terpecahkan dan tidak menyangka kejadiannya akan mengharukan seperti ini. Rumah calonnya tidak terlalu jauh, tak lama ia datang berdua. Perempuan muda itu sebut saja Aisyah, masih dari lingkungan kampungnya.



Saat berjalan, calon istri keduanya kaget, bergetar dan ketakutan. Perasaan bersalah menghinggapinya. Bisa dibayangkan, ia diundang oleh Ustadz Ahmad ke rumah Pak Hasan yang selama ia menjalin hubungan dengannya. Ia merasa akan disidang karena merasa telah mengganggu rumah tangga orang. Apalagi, disitu ada istrinya Pak Hasan. Tapi, ketika menjemputnya, rupanya Pak Hasan berhasil meyakinkannya bahwa ia diundang justru Ustadz Ahmad akan memenuhi harapannya diperistri Pak Hasan.


Begitu masuk rumah, Bu Hasan dan Aisyah saling menatap. Mereka kaget sekali. Hah?? Rupanya mereka saling mengenal. Si Ibu sangat kaget, tidak menyangka sama sekali bahwa calonnya adalah orang yang dia kenal. Sesudah mengucapkan salam, pada kaget, melongo dan hatinya saling bertanya-tanya. Pak Ustadz itu menenangkan.


“Silahkan duduk. Siapa namanya?”
“Aisyah, Pak Ustadz.” Jawabnya pelan.
Perempuan itu wajahnya lumayan tapi tampak sudah berumur. Dengan malu-malu dan ketakutan, ia duduk di sebelah Ustadz Ahmad.
“Begini ya Aisyah… Tenaang yaa… Jangan takut. Ini bukan musibah, ini justru barokah. Pertemuan ini Insya Allah barokah.” Kata Ustadz menenangkan.
“Naah… Aisyah,” kita semua disini sudah mengetahui niat dan keinginan Bapak ini dengan Aisyah. Pak Hasan sudah mengutarakannya kepada Ibu secara terbuka. Ibu sudah mendengar semuanya. Tadi mereka sudah berangkulan saling mengikhlaskan. Walaupun terasa berat, Ibu sudah mengikhlaskan menerima niat Bapak dengan Aisyah.”
Aisyah sangat kaget. Ia bingung dan perasaan tidak menentu mendengar penjelasan Ustadz Ahmad. Rencana, keinginan dan bayangan dinikahi Pak Hasan musnah sejenak disitu. Yang ada adalah perasaan sangat malu pada Bu Hasan.


“Nah, sekarang sudah kumpul. Disaksikan ibu, bapak sekarang silahkan utarakan maksud Bapak kepada Aisyah!” Instruksi Ustadz itu. Sambil merasa berat karena disaksikan istrinya, Pak Hasan berkata, “Neng, maafkan Bapak ya… Bapak ingin mewujudkan niat kita itu. Dari pada kita sembunyi-sembunyi, daripada kita tertutup mendingan terbuka begini. Selesai pengajian tadi, Bapak nanya sama Pak Ustadz Ahmad meminta nasehat jalan keluarnya. Ternyata Pak Ustadz menyelesaikannya dengan jalan seperti ini. Benar-benar diluar dugaan. Tapi, Bapak merasa lega sekarang karena istri bapak sudah mengijinkan. Tapi, Bapak terserah Neng, mau syukur, tidak juga tidak apa-apa. Bagaimana, Neng menerima Bapak tidak?”


Wajah Aisyah tampak pucat dihinggapi rasa malu. Lidahnya terasa berat dan kelu. Ia seolah tak sanggup berbicara, ia merasakan betul berada pada pihak yang salah telah mengganggu keluarga orang. Tapi, ia juga tidak mungkin mendustai perasaannya dan mementahkan apa yang sudah direncanakannya dengan laki-laki yang sudah beristri itu.

“Ayo bu…, dijawab saja, tidak usah malu-malu. Ini adalah kebaikan. Biar menjadi jelas..!” Pinta Ustadz Ahmad.
Setelah ditunggu-tunggu, akhirnya keluar juga kata-katanya. Matanya berkaca-kaca.…
“Pak Ustadz, saya malu, merasa sebagai pihak pengganggu. Saya benar-benar mohon maaf pada semuanya, terutama pada ibu. Saya pasrah saja, saya ikut saja, pada keputusan bapak dan ibu.”
“Ya sudah,” Ustadz cepat-cepat menukas. Ia memaklumi Aisyah berada pada posisi yang tidak enak. “Tidak perlu merasa malu. Kebaikan sudah dibuka dirumah ini. Aisyah sudah diterima oleh Bu Hasan untuk turut mendampingi Bapak.”
“Sekarang, giliran Ibu bicara sama Aisyah.” Pinta Ustadz Ahmad lagi, “silahkan, ungkapkan perasaan Ibu. Apa yang ingin Ibu sampaikan.”


Si Ibu juga berat, lidahnya terasa kaku. Sangat susah ia megeluarkan kata-kata. Walaupun sudah menerima, perasaannya masih tidak menentu. Ia kemudian menangis lagi. Nafasnya tersengal. Ia sedang berjuang mengalahkan perasaannya. Kedua perempuan ini duduk berhadapan. Ia sudah menyatakan rela atas keinginan suaminya yang berarti ia harus menerima perempuan muda yang ada dihadapannya itu. Kemuliaan perempuan ini lebih besar dari egoismenya memiliki penuh suaminya. Ketaatannya sebagai istri telah mengalahkan nafsunya untuk mengikuti bisikan menolak niat suaminya. Kerelaan dimadu adalah kekuatan mengalahkan diri sendiri. Dan itu berat. Karena itu hanya sedikit perempuan yang sanggup menerimanya. Kebanyakan adalah perempuan biasa, yang dengan kesadaran umum ia menolak mentah-mentah bahkan tak sungkan-sungkan memilih cerai daripada dimadu. Kekuatan diri dan kebesaran jiwa tidak dibentuk oleh tingkat pendidikan dan pergaulan modern melainkan oleh sikap penerimaan, keikhlasan dan kepasrahan yang tinggi melalui tempaan pengalaman hidup. Bu Hasan sedang menunjukkan kekuatan itu pada perempuan muda dihadapannya. Sambil terisak, ia berkata berat: “Te.. rus… tee… raang… huu…hhuu…hiks….hiks. Ibu kira bukan Eneng orangnya. Hik…hik…hiks… Ibu sering melihat Eneng. Ibu bukan Eneng… Tapi, ya sudaah… Ibu pesen saja… kita urus sama-sama si Bapak ya Neng… Eneng jangan sayang sama Bapak saja… Eneng harus sayang juga sama keluarga dan anak-anak ya Neeng … hik…hik… hiks…”


Mendengar kerelaan yang diungkapkan dalam suasana haru saat itu, Aisyah bukannya senang, tapi malah tak kuat menahan perasaannya. Ia pun meneteskan air matanya, terharu. Ia menjatuhkan kepalanya pada pangkuan Bu Hasan. Suasana jadi semakin haru.
““Huu … huu…. hiks… hiks… Maafkan saya Bu… Maafkaan… Sekali lagi ma.. aaaf…!” Jawab perempuan muda itu tersedu-sedu takluk pada kemuliaan hati bu Hasan.
“Ya cukup… cukuuup…” kata Ustadz Ahmad yang juga matanya basah melihat adegan ini, “Alhamdulillah … Pernyataan bersedia sudah pada keluar secara jujur dan terbuka dari ketiga belah pihak. Insya Allah ini akan menjadi awal yang baik dalam membangun rumah tangga. Insya Allah, saat ini Allah sedang menurunkan barokahnya di ruangan ini. Air mata kepasrahan ibu berdua adalah saksi atas turunnya rahmat Allah hari di rumah ini. Alhamdulillah… kita dijauhkan dari suasana amarah dan emosi, tempatnya syetan menyelusupkan bisikan godaannya.”


“Sudaah… bu yaa… antara ketiga pihak ini sudah merelakan.” Kata Ustadz Ahmad.
“Tapi maaf,” pikiran Ustadz itu menghentak lagi, “ini belum selesai. Sekarang saya minta, tolong panggilkan kedua orang tua Ibu alias mertua Pak Hasan. Yang manggilnya Bapak. Tolong harus hadir disini. Bilang saja saya yang memintanya. Mohon dengan sangat gitu!”
“Pak Ustadz, maaf, kenapa mereka harus dipanggil juga?” Pak Hasan nampak keberatan.
“Oh iya, harus!” Tegas Ustadz. “Keluarga harus tahu semuanya biar tidak ada fitnah diantara saudara. Kita sudah mengawali dengan langkah yang baik, dengan keterbukaan. Semua keluarga harus tahu biar tidak ada fitnah dan ghibah dalam keluarga. Caranya harus seperti ini. Para orang tua juga harus dihadirkan untuk memberi tahu dan meminta do’anya.”


Semuanya pada kaget, tak menyangka dengan langkah Ustadz Ahmad. Tapi, karena Pak Hasan yang menginginkan pernikahan ini, ia menuruti juga.
Ketika ia melangkah pergi, Ustad Ahmad memberi tugas juga pada istrinya. “Naah… Ibu. Maaf, tugas Ibu tolong hadirkan juga orang tuanya Bapak atau mertua Ibu. Ibu ini istrinya bapak. Harus lengkap semua supaya pernikahan ini menjadi barokah buat semuanya.”
Si Ibu kaget juga, tapi suasana haru saat itu tidak membuka ruang berfikir, yang ada adalah ketaatan pada Ustadz muda yang meyakinkan ini. “Baik Pak Ustadz,” Bu Hasan pun melangkah pergi menjemput mertuanya.
Orang tua Pak Hasan rumahnya cukup dekat. Sekitar setengah jam sudah tiba. Sedangkan orang tua Bu Hasan agak jauh. Sekitar dua jam Ustadz Ahmad menunggunya. Menjelang maghrib mereka semua sudah kumpul. Drama itu diselang dulu oleh shalat maghrib berjama’ah yang dipimpin oleh Ustadz Ahmad sendiri.



* * *

Orang tua Bu Hasan masih lengkap, sedangkan orang tuanya Pak Hasan tinggal bapaknya. Istrinya sudah lama meninggal dunia. Yang datang jadi bertiga. Usia mereka rata-rata antara 70-75 tahunan. Selesai shalat magrib berjama’ah, Ustadz Ahmad rupanya masih menugaskan kedua suami istri itu, Pak Hasan dan istrinya, dengan tugas baru.
“Pak, Bu, orang tua Bapak dan Ibu masing-masing sudah hadir. Sekarang maaf, orang tuanya Aisyah juga harus dijemput. Mereka harus dihadirkan. Keduanya harus datang kesini, yang menjemputnya Bapak dan Ibu berdua. Maaf Pak, Bu yaa… harus begitu.”


Suami istri itu kaget dan bingung. Mereka celingukan. Langkah ustadz itu benar-benar diluar dugaan. Ia memberikan tugas berat terutama bagi bu Hasan. “Menjemput mertua calon maru? Mertua istri muda? Aakhh… betapa beratnya,” bayangan Bu Hasan. Bila menggunakan nafsu, ia ingin mengatakan, “enak benar si Bapak! Sudah diizinkan, dijemput lagi oleh Ibu lagi. Kira-kira dong Pak!! Pakai perasaan.” Itulah fikiran yang diliputi hawa nafsu. Tapi tidak begitu menurut kebenaran. Yang benar adalah para orang tua ini memang harus hadir mengetahuinya karena ini pernikahan poligami, yaitu suami beristri menikah lagi dan diizinkan oleh istrinya. Suasana saat itu sudah tenggelam dalam ketaatan pada Ustadz yang mengatasi masalah pelik ini. Langkahnya dari awal sudah meyakinkan. Permintaah Ustadz Ahmad tidak mungkin dibantah dan proses kemuliaan sedang berjalan, tidak mungkin dimentahkan. Tidak mungkin ada penolakan. Kesediaan mereka berdua menerima istri muda harus dituntaskan. Suami istri itu pun berjalan lagi keluar rumah menuruti instruksi Ustadz Ahmad.


Untung rumahnya tidak jauh. Pak Hasan mungkin agak gembira dalam hatinya. Tapi istrinya? Anda bisa membayangkannya sendiri. Ia harus dengan rela menjemput orang tua “pesaingnya,” seorang perempuan muda yang akan mengambil sebagian hati dan cinta suaminya. Tapi, lagi-lagi, perasaan itu tidak muncul, terhapus oleh kaharuan suasana dramatis sejak tadi siang. Malah, saat mulai melangkah, ada sebuah kesadaran halus hinggap ke kedalaman sanubari Bu Hasan: “Kalau saya sudah rela, kenapa harus merasa berat?” Ia pun terus melangkah. Betapa mulianya perempuan itu. Hari itu, kemuliaan dan ridha Allah sepenuhnya milik istrinya. Sepenuhnya berhak disandangkan pada istrinya sebagai pakaian kebesarannya, Bu Hasan yang berhati mulia.



* * *

Sekitar 20 menit, mereka datang berempat. Orang tuanya Aisyah tampak bingung dan tidak mengerti. Mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi. Mereka memenuhi saja undangan Pak Hasan dan istrinya yang disebutkannya permintaan Ustadz Ahmad. Kedua orang tua Aisyah mengetahui Ustadz itu sering memberikan ceramah dan menjadi panutan di daerah itu. Ustadz itu misterius karena tak seorang pun dari ribuan jama’ahnya, termasuk di daerah itu, tak mengetahui jelas identitasnya, alamatnya, rumahnya dst. Yang mereka tahu, Ustadz itu datang jauh dari Bandung, masih muda, banyak keanehan, selalu datang sendirian dan tak membawa apa-apa, tidak pernah membawa kendaraan, sering berkunjung ke daerah itu dan memberikan pengajian yang berpengaruh pada jama’ahnya. Setelah itu menghilang. Sering datang lagi dalam waktu yang tidak terduga. Ustadz itu hanya pernah menceritakan bahwa statusnya sebagai pengajar di pergururan tinggi Islam di Bandung, tapi mengaku sebagai orang biasa-biasa saja. Begitulah ia dikenal jama’ahnya di pelosok-pelosok Banjar, Ciamis, Indramayu, Cirebon, Kuningan, Majalengka, Purwakarta, Cicalengka, Banjaran, Bandung dst, bahkan juga di daerah Jawa Tengah.


Ia berkeliling ke daerah-daerah itu membina jama’ahnya yang sudah ia bangun hingga masyarakat yang lokasinya sulit dijangkau kendaraan dan daerah pegunungan. Masyarakat yang ia bina sudah terikat dan mencintainya karena ketulusannya, kelebihannya dan keanehannya sekaligus. Mereka yakin, ustadz ini bukan orang biasa. Ketika ia tidak ada, mereka merindukannya. Dan ketika Ustadz itu datang, masyarakat saling memberitahu secara otomatis dan tak lama kemudian berkumpul. Saat-saat tertentu, jama’ah yang berkumpul bisa mencapai ratusan yang datang dari berbagai desa. Ustadz itu bila perlu berhari-hari ada di sebuah daerah. Yang jama’ahnya ketahui dari Ustadz Ahmad adalah keanehan tidak pernah mau menerima honor ceramah, kalaupun menerima ia minta langsung dibagikan ke fakir miskin yang ada disitu, jarang makan berhari-hari dan jarang kelihatan tidur. Bila berkumpul dua tiga hari, orang bisa membuktikannya ia tidak tidur selama itu. Yang keluar dari mulutnya selalu nasehat, kalimat-kalimat penyadaran dan ajakan pada kebaikan.

Sambil masuk ke rumah Pak Hasan, mereka berempat mengucapkan salam. Orang tua Asiyah itu semakin bingung melihat anak perempuannya ada disitu. Ada apa gerangan? Jangan-jangan niat Pak Hasan untuk menikahi anaknya terbongkar oleh keluarganya dan jadi masalah. Tempat duduk sudah diatur agar semuanya mendapat kursi. Mereka melingkar di ruang tamu yang saat itu menjadi sempit karena sekitar 15 orang berkumpul. Ada beberapa anggota keluarga Pak Hasan yang turut menyaksikan drama itu sejak awal. Anaknya Pak Hasan pun dihadirkan. Yang satu laki-laki masih usia SD, satu lagi perempuan usia SMA. Hari itu benar-benar hari yang istimewa. Sebuah peristiwa luar biasa dan amat langka sedang terjadi di rumah itu. Saat itu pukul 20.00 lebih 15 menit.


“Nah, alhamdulillah sekarang sudah kumpul semuanya. Kita mulai lagi.” Ustadz Ahmad membuka agenda selanjutnya. Kepada para pasangan mertua, Ustadz Ahmadi memfokuskan pembicarannya.
“Bapak-bapak dan ibu-ibu yang terhormat. Maaf sebelumnya saya telah mengganggu Bapak dan Ibu semua. Pasti bertanya-tanya, ada apa ini, kan?? Tidak perlu kaget, bapak-bapak dan ibu-ibu semua dikumpulkan disini adalah untuk satu urusan penting. Bapak-bapak dan ibu-ibu adalah satu keluarga besar. Saya meminta waktunya. Ini untuk kebaikan bersama, kebaikan kita semua, terutama keluarga besar Bapak dan Ibu Hasan disini.”


“Begini… Pak yaa…. buu…” Ustadz Ahmad agak tersenyum sambil membetulkan posisi duduknya, ia senang telah berhasil mengumpulkan para orang tua ini. Ia kemudian menceritakan yang sudah terjadi dari A sampai Z. “Sekarang, alhamdulillaah…. Pak Hasan sudah siap, Bu Hasan pun sudah tahu dan ridha walaupun masih terasa berat ya Bu…?? Hehehe….” ujar Ustadz melirik ke Bu Hasan. Bu Hasan hanya tersenyum lirih. “Aisyah pun sudah menerima kesepakatan Pak Hasan dan Ibu. Tadi mereka semua sudah berbicara langsung dan terbuka. Insya Allah ini akan menjadi barokah buat kita semua. Pernikahan ini Insya Allah akan menjadi pernikahan yang penuh barokah. Naah… Tapi bagi saya, pembicaraan dan keterbukaan antara mereka bertiga belum cukup. Untuk itulah saya mengumpulkan Bapak-bapak dan Ibu-ibu semuanya sekarang disini. Begitulah Paak, Buu, ceritanya …”


Para orang tua itu pada kaget. Reaksi para mertua ini berbeda-beda. Ada yang khawatir, ada yang tersenyum, ada yang kesal, ada yang merasa aneh dan sebagainya. Yang jelas semuanya kaget dan merasa aneh dengan peristiwa ini.
“Naah… sekarang Bapak harus meminta ridha para orang tua ini,” kata Ustadz kepada Pak Hasan, “ibu-ibu dan bapak-bapak ini semua adalah orang tua Pak Hasan dan Bu Hasan sendiri. Mertua itu hanya status sosial dan ikatan hukum, hakekatnya adalah orang tua kita sendiri. Kita harus menghormati dan memperlakukam mereka ini sebagai orang tua sendiri. Bapak harus menghormati mereka dengan meminta keridhaan dan memohon do’anya. Do’a orang tua pada anaknya Insya Allah makbul.”
Pak Hasan dan istrinya menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan Ustadz.
“Pertama, saya minta silahkan kedua orang tua Bu Hasan atau mertua Pak Ahmad yang menyampaikan perasaan dan pesannya kepada Pak Ahmad. Silahkan.”


Kedua orang tua ini bingung. Harus bilang apa? Belum habis kekagetan mereka. Tapi mereka tampak berusaha menenangkan diri. “Terima kasih Pak Ustadz. Saya sungguh tidak menyangka dan tentu saja kaget sebagai orang tua. Hasan mau menduakan Titi, anak saya. Benar Ustadz, kami sangat kaget. Tapi, yaa… gimana lagi, terserah saja. Titi dan Hasan bukan anak kecil lagi. Mereka sudah pada dewasa. Kami sebagai orang tua merasa tidak berhak ikut campur pada keluarga anak saya. Yang penting, kamu Ti benar-benar siap dan sudah difikirkan matang-matang. Nak Hasan juga harus mikir masak-masak, apa benar-benar sudah siap dan sanggup adil dengan dua istri. Ingat, jangan sampai menelantarkan istri dan anak-anak gara-gara ada istri muda. Ibu dan bapakmu sih begitu saja. Ya bu ya?” kata mertuanya pak Hasan. Istrinya, hanya sedikit bicara dalam bahasa Sunda yang sederhana, datar dan cuek. “Ah, da kamu teh sudah pada tua. Ibu mah terserah saja. Asal jangan ditinggalkan saja sama suamimu. Makanya siap juga, kamu teh mungkin sudah memikirkannya.”



Setelah selesai, kemudian Ustadz Ahmad mempersilahkan mertua Bu Hasan, alias bapaknya Pak Hasan untuk berbicara. Orang tua ini agak lucu.
“Lain, maneh teh bener rek kawin deui? Pan geus kolot. Neangan naon deui atuh?” (Kamu bener mau kawin lagi? Kan kamu sudah tua? Mencari apa lagi?). Mendengar itu, ustadz hanya tersenyum.
“Iya Pak ya, padahal buat saya saja.” Kata Ustadz bercanda.
“Heueuh… pantes keneh keur si Jang Ustad!” (Iya lebih pantas sama nak ustadz).
Dalam suasana haru sejak siang tadi, rupanya hanya itu hiburan yang terdengar. Tapi, suasana haru tidak berubah. Ustadz Ahmad berusaha mempertahankannya.


Setelah itu, dipersilahkan pasangan orang tua Aisyah. Mereka agak kebingungan. Sama dengan perasaan Aisyah, mereka merasa pada posisi yang menganggu keluarga orang lain.
“Kalau Bapak dan istri, benar-benar minta maaf, anak saya telah mengganggu keluarga Pak Hasan dan Ibu. Saya tadi kaget disuruh datang kesini. Saya kira, saya dan anak saya mau disidang. Yaah… saya juga tidak mengerti. Anak saya belum ada jodohnya saja. Takdir Allah mah tidak disangka-sangka. Kalau mau dan sudah bulat siap dinikahi Pak Hasan terserah saja. Saya serahkan keputusannya pada anak saya saja. Kami sebagai orang tua hanya bisa mendo’akan saja. Sekali mohon maaf pada semuanya, terutama pada Bu Hasan dan keluarganya.”
Terakhir, Ustadz memanggil anak perempuannya Pak Hasan yang masih SMA untuk mendekat. Sebut saja Salma. Anak ini, tahu Bapaknya akan menikah lagi, ketika diberi kesempatan mengungkapkan perasaannya malah menangis. Rupanya, sejak tadi ia menahan perasaannya.
“Khuu… hu….hu…. hiks…hiks….hiks…. Salma mah terserah Mamah sama Bapak aja. Tapi Salma takut Ibu ini galak. Jangan galak aja sama Salma dan adik.”


Ustadz segera menenangkannya. Sambil mengusap-ngusap kepalanya, ia menjelaskan:
“Salma sayang,” ujar Ustadz, “Salma sudah besar. Salma juga harus tahu ya, biar Salma cepat dewasa mengetahui persoalan orang tua. Salma harus menerima kenyataan ini. Do’akan agar Mamah dan Bapak selalu dilindungi Allah yaa…. Agar semua keluarga ini berada dalam kebaikan. Nah, ini harus jadi contoh, bila suatu saat Salma mengalami hal seperti ini, caranya harus seperti ini. Ini yang benar menurut agama.”
“Iya, Pak Ustadz,” jawab anak itu.


“Alhamdulillah… semuanya pihak di keluarga ini, tidak ada yang terlewat, sudah mengetahui dan memberikan pandangan dan persetujuannya. Bapak-bapak dan ibu-ibu keluarga besarm Pak Hasan yang saya hormati, beginilah seharusnya pernikahan poligami dijalankan. Kalau begini prosesnya kan enak ya ngga? Pak Hasan mengutarakan niat baiknya secara terbuka dan baik-baik pada istrinya. Istrinya tahu, menerima dan mengizinkan. Calon istri mudanya bertemu dengan istri pertama, saling merelakan, saling mengerti dan saling mendo’akan. Insya Allah menjadi barokah buat semuanya. Orang tua dari ketiga orang ini pun semuanya mengetahui, diminta do’a restunya, anak pun diajak bicara dan diminta pendapatnya. Tidak barokah bagaimana pernikahan kalau dijalankan seperti ini? Betul tidak Pak? Bu? Kalau orang menjalaninya seperti ini, Insya Allah, poligami tidak akan menjadi masalah, tidak akan buruk dalam pandangan orang dan keluarga bahkan akann mendatang rahmat dan kasih sayang Allah.”

“Banyak orang melakukan poligami dasarnya nafsu, caranya tidak benar dengan sembunyi-sembunyi, membohongi istrinya, berdusta pada keluarganya, perhatian, pemberian dan kasih sayangnya tidak seimbang. Atau, suaminya jujur dan terus terang, istrinya menolak mentah-mentah, pokoknya tidak mau. Akhirnya suaminya menjalaninya dengan sembunyi-sembunyi. Begitu ketahuan, ribut, sakit hati dan cerai. Kacaulah rumah tangga karena jauh dari tuntunan agama. Atau, istrinya menolak dan minta cerai karena suaminya belum benar sebagai kepala keluarga, tidak memberikan pendidikan agama. Membimbing keluarga dan membahagiakan istrinya saja tidak, sudah ingin kawin lagi. Belum caranya pun salah, tujuannya hanya mengumbar nafsu, tidak terus terang, caranya menyakitkan istri dan seterusnya. Ya wajar istrinya marah, menolak dan minta cerai.”


Panjang lebar Ustadz Ahmad memberikan nasehatnya pada keluarga itu, sekitar satu jam. Soal keluarga, soal amanat, soal keadilan, soal tanggung jawab di akhirat, soal kepasrahan dan keikhlasan, pendidikan anak, rizki dll. Semuanya khidmat mendengarkan. Begitulah ia. Kalau sudah memberikan nasehat sulit berhenti. Kata-katanya terus mengalir. Nasihat-nasihatnya membuat kesadaran agama semakin mendalam, semakin terasa.
“Nah sekarang, tolong berdiri semuanya, berdiri melingkar,” pinta Ustadz Hasan lagi. Para orang tua itu kemudian berdiri berpasangan membentuk lingkaran.
“Pak Hasan, ibu dan Aisyah silahkan salaman berkeliling memohon do’a pada orang tua kita ini satu-satu, sungkem. Mintalah maaf atas kesalahan-kesalahan selama ini sebagai anak, mohonkanlah ampunan dan ridhanya. Mintalah restu akan menjalani rumah tangga baru dengan dua istri. Ayo Pak, Bu… dimulai oleh Pak Hasan.”


Pak Hasan diikuti istrinya dan calon istri keduanya menyalami mereka satu persatu. Dimulai kepada Utsadz Ahmad. Antara orang tua dan anak ini saling berangkulan dan berpelukan. Inilah puncak suasana yang paling mengharukan. Salaman dan pelukan mereka diiringi suara isak tangis. Saat bersalaman dan berangkulan satu persatu mereka semua tidak dapat menahan perasaannya. Akhirnya, semua yang hadir disitu tidak ada yang tidak menangis, semuanya menangis terharu. Ustadz Ahmad pun terisak menangis tak kuat dengan drama itu. Lingkaran itu adalah lingkaran tangisan dan banjir air mata. Semuanya tidak tahan mengekspresikan rasa harunya yang mendalam. Kedua anak Pak Ahmad pun sama. Bukan hanya suara isak tangis dan air mata, tapi kalimat-kalimat do’a dari para orang tua ini keluar dari mulutnya saat mereka merangkul anak-anaknya. Rangkulan dan tangis itu bukan hanya kepada Pak Hasan, bu Hasan dan Aisyah yang akan menjadi istri barunya, tapi juga antara para orang tua sendiri. Mereka saling merestui dan mendo’akan. Kalimat-kalimat do’a bergemuruh di ruangan itu, beterbangan naik ke angkasa, merobek langit dan membocorkan hujan rahmat dan ridha Allah ke rumah itu. Saat tangisan dan do’a para orang tua itu terungkap meridhai anak-anaknya, para malaikat penjaga ‘Arsy seolah pada berebut turun berhamburan menaburkan rahmat-Nya ke rumah itu.


Para orang tua itu sangat merasakan bahwa mereka adalah satu keluarga. Suasana sangat terasa penuh rahmat dan barokah. Yang paling tidak tahan rupanya Asiyah. Baru salaman ketiga, ia mulai lemas, keseimbangannya hilang dan tiba-tiba, “Gedebuk…. gupraak…!” ia jatuh pingsan. Orang-orang kaget. Ada suara tangisan yang mengeras, rupanya dari Ibu kandungnya sendiri. Ia segera memburu dan memeluknya, takut terjadi apa-apa pada anaknya. Tapi Ustadz Ahmad segera menenangkan.
“Biarkan…. Biar….. biarkan Bu!! Tenang saja. Tenang. Tidak apa-apa!! Ia hanya tidak tahan dengan suasana haru ini. Ibu tenang saja, tidak usah khawatir.”
Setelah beberapa menit dipangkuan ibunya, Ustadz melintaskan telapak tangannya di atas muka Aisyah, mengalirkan energi. Perempuan kemudian sadar kembali. Ustadz meminta memberinya minum. Ia dipapah dan didudukkan di kursi. Semuanya kemudian duduk kembali dengan mata yang pada memerah oleh air mata. Ustadz menenangkan mereka semua dan mengajak mereka bersyukur atas peristiwa yang penuh rahmat dan barokah Allah itu.



Setelah semuanya tenang dan meraih minumannya masing-masing, Ustadz berkata pada Pak Hasan:
“Naah… sekarang kembali ke Bapak nih. Bagaimana rencana bapak selanjutnya? Jangan dilama-lamakan mumpung suasananya masih hangat.”
Pak Hasan berfikir sejenak kemudian berkata:
“Ustadz, saya mungkin tidak bisa menyelenggarakannya buru-buru. Harus ada persiapan dulu.”
“Oh iyaa.. jelas.” Jawab Ustadz. “Begini saja, akadnya harus secepatnya. Kalau bisa besok. Toh yang diundang hanya keluarga saja dan tetangga dekat. Walimahnya boleh nanti lagi, minggu depanlah.”
“Kalau begitu bisa Ustadz. Insya Allah. Gimana Mah setuju? Neng?” Kata Pak Hasan melirik istrinya dan kepada Aisyah.


Kedua perempuan ini menganggukkan kepalanya. “Iya… terserah Bapak aja. Lagian mumpung ada Pak Ustadz disini, terserah Pak Ustadz saja.” Kata Bu Hasan.
“Terus kami ada permintaan nih. Tolooong…. Pak Ustadz tidak keberatan. Kami mohon Pak Ustadz menghadiri.” Pinta Pak Hasan. “Soalnya, Pak Ustadz ini, biasa.., begitu beres pengajian, tiba-tiba menghilang saja. Susah dicarinya.”
“Insya Allah… Saya akan hadir.”


Akhirnya disepakati, akad nikah diselenggarakan esok harinya. Pak Hasan diminta mengundang semua keluarga, tatangga-tetangga dekat, juga segera mengontak na’ib alias yang akan menikahkannya. Tempatnya di rumah itu juga. Ustadz malam itu tidak pulang, ia ditahan oleh Pak Hasan untuk menginap disitu. Biasanya, ia menolak dan mencari tajug atau langgar bilik yang sepi dan menghabiskan malamnya disitu dengan tidak tidur sampai pagi. Atau, biasanya ia mencari rumah gubuk fakir miskin yang dihuni sepasang kakek dan nenek. Ia bertamu dan menghibur mereka dengan obrolan agama dan nasehat. Ia memberikan uang yang ada disakunya untuk sekadar membeli beras dan ikan asin lalu menyantap bersama fakir miskin itu sambil akrab bercengkrama. Ia ikut mencuci piring, menyapu atau membantu mereka seadanya. Banyak pasangan kakek nenek menganggap tamunya ini orang aneh. Dandanannya orang kota tapi bertamu ke gubuk di kampung yang dihuni orang tua seperti mereka, mau ngobrol semalaman, memberikan nasehat dan mau tidur beralas tikar. Ada sepasang kakek nenek daerah Bandung selatan yang menyebutnya ‘malaikat’ karena keanehannya itu. Ia sangat merindukan orang aneh ini. Begitu datang lagi, kakek nenek itu memeluknya, menangis, karena merasa seperti kepada anaknya sendiri. Anaknya sendiri malah pada sibuk dikota jarang menemuinya. Begitulah, Ustadz itu lebih merasakan kenikmatan di tempat seperti itu daripada di rumah mewah tapi hawanya ia rasakan panas karena banyak dari uang dan harta mereka didapatkan dengan cara yang kotor dan tidak halal.


Esoknya, jam sembilan pagi, keluarga Pak Hasan dan para tetangga dekat sudah hadir. Setelah segalanya siap, acara akad pun dilangsungkan. Ustadz Ahmad sendiri yang diminta memberikan khutbah nikahnya. Pernikahannya sungguh mengharukan dan yang hadir pada berdecak kagum. Mereka tak habis pikir, bagaimana Pak Hasan menikah lagi dengan istri muda, bukan hanya direstui istrinya bahkan hadir dan mendampingi suaminya. Mereka tak habis pikir bagaimana pernikahan poligami bisa seperti itu. Mereka kagum kepada Bu Hasan bisa semulia itu sebagai istri. Tentu saja itu sebuah pemandangan luar biasa. Akhirnya, semuanya memuji Bu Hasan. Rasa kagum dan salut semuanya mengarah kepada Ibu itu. Ustadz pun mendengarkan semua keluarga dan tetangga memuji kesabaran dan ketabahannya sebagai istri. Ialah yang menjadi ratu dan primadona dalam acara itu. Selesai akad, semua orang menyalami mengucapkan selamat. Kekaguman mengalir kepada Bu Hasan atas kebesaran jiwanya. Ketika yang hadir bersalaman satu persatu, kembali isak tangis terdengar lagi. Sebuah pernikahan yang sangat mengharukan karena tampak tak seorang pun yang hadir tidak meneteskan air matanya.


“Buu… Ibu sungguh luar biasa. Sabar ya buu…. Ibu yang tabah ya Bu ….” Yang lain terdengar mendo’akan, “semoga Bu Hasan diberi kemuliaan di sisi Allah. Ibu…. Saya salut sama Ibu…” “Buu… Ibu sungguh luar biasa… jarang perempuan seperti ibu. Saya do’akan ibu kuat, sabar dan bahagia.” Mereka juga memuji Ustadz Ahmad. Mereka angkat topi pada ustadz muda itu bisa menghatur pernikahan poligami dengan proses sesempurna seperti itu. Seperti tadi malam, pernikahan itu dibanjiri do’a dan air mata oleh semua tamu undangan yang hadir.



* * *

Selesai acara, Ustadz dan keluarga baru itu berkumpul, ngobrol dan makan siang. Sebagian keluarga dan tetangga ada yang ikut ngobrol dan bertanya tentang riwayat pernikahan itu. Mereka penasaran dan tertarik ingin tahu. Sekitar dua jam kemudian, rumah itu sepi kembali. Maklum, yang hadir hanya keluarga dan tetangga dekat saja, jadi tamu tidak banyak. Ustadz Ahmad merasa tugasnya sudah selesai. Ia berpamitan akan pulang. Pak Hasan dan dua istrinya, orang tuanya, keluarganya dan semua orang yang masih ada, otomoatis berdiri semuanya dan mendekati Ustadz Ahmad. Wajah Pak Hasan tampak sumringah. Ia senang sekali. Bu Hasan sudah berkurang bebannya dan ia semakin bisa menerima. Dan Aisyah, sedang sibuk bekerja beres-beres membantu Bu Hasan. Ia masih tampak kaku di rumah itu. Ia masih sedang menyesuaikan diri dan mengatur perasaannya. Maklum, itu di rumah istri tuanya. Tapi, wajahnya tidak bisa menyembunyikan kesenangannya. Ia tidak menyangka bayangan pernikahannya dengan Pak Hasan terwujud dengan cara penuh maslahat seperti itu. Ini semua tidak terbayang sebelumnya.


Semua keluarga itu tidak ada yang ketinggalan satu persatu mengucapkan terima kasih yang tiada terhingga pada Ustadz Ahmad. Saat Ustadz tampak sedang berdiri siap-siap, Pak Hasan dan istrinya menghampirinya, mengucapkan kata terima kasih yang terakhir dan menyampaikan sesuatu: “Ustadz, mohon maaf saya tidak bisa memberikan apa-apa. Mohon maaf yang sebesar-besarnya. Saya hanya bisa memberikan ini. Tidak besar sekadar untuk ongkos pulang. Mohon Ustadz menerimanya sebagai tanda terima kasih kami.” Sebuah amplop berisi uang Rp. 5 juta telah disiapkan Pak Hasan dan istrinya. Ustadz itu kaget. Mengetahui begitu, ia duduk lagi dan berkata:


“Pak, Bu, bukan untuk ini saya datang kesini dan membantu bapak dan ibu. Saya sama sekali tidak mengharapkan ini.”
“Tapi, Pak Ustadz …. Ini sekadar ongkos saja. Bukan hadiah atau apa, karena kami tahu, ustadz selalu menolaknya.”
“Sudahlah Pak.” Ustadz segera memotongnya, ia tahu Pak Hasan akan memaksanya agar ia menerimanya.
“Pak, ada orang-orang yang lebih berhak atas uang ini daripada saya. Siapa? Tuuh… orang-orang yang tidak mampu di sekeliling Bapak. Mereka tinggal dekat dan bertetangga dengan bapak. Maaf Pak saya tidak bisa menerimanya.”



“Sudah … begini saja,” Ustad itu menyambungnya, “agar pernikahan ini lebih barokah lagi, agar masyarakat disini mendo’akan keluarga bapak, agar keluarga bapak selamat dan bahagia, begini. Uang ini saya terima, tapi saya mohon bantuan Bapak, Ibu dan Aisyah ya? Tolong Bapak, Ibu dan Aisyah berkeliling ke tetangga-tetangga dan bagikan ini kepada mereka. Yang dekat jangan ada yang terlewat, tapi utamakan keluarga yang tidak mampu dulu. Besar kecilnya terserah silahkan diatur. Mau kan Pak? Bu?” pinta Ustadz, “Ini permintaan saya demi kebaikan bapak ibu semua.”
“Tidak …. Tidak… Pak Ustadz,” Pak Hasan keberatan. “Begini. Mereka itu sudah, sudah ada bagiannya. Tenang Ustadz… Ustadz tidak usah memikirkan itu, saya tahu. Nanti mereka ada bagiannya. Ini benar-benar untuk Ustadz, tolong diterima sebagai ucapan terima kasih kami.”


“Paak….. “ seru Ustadz Ahmad lagi, “Iyaa…. saya menerimanya dan saya mengucapkan terima kasih atas kebaikan Bapak dan Ibu. Saya tidak menolaknya. Saya menerimanya nih. Tapi, saya ada permintaan pada Bapak dan Ibu. Tolong Bapak dan ibu bagikan uang ini kepada orang-orang miskin dan tetangga yang ada disini. Bapak dan Ibu mau tidak membantu saya?”
Dijelaskan begitu, pengantin baru tidak berdaya. Tidak ada pilihan lain kecuali menuruti permintaannya.
“Yaa… baiklah kalau begitu Ustadz, kami akan melakukannya.” Kedua istrinya pun, menyadari itu sebuah kebaikan, sama-sama bersedia.
“Pak tolong sekarang juga!”
“Sekarang Ustadz?”
“Ya. Mumpung pernikahan bapak masih hangat, tetangga itu semua akan senang dan mendo’akan bapak dan ibu dengan shadaqah ini. Insya Allah, ini akan menjadi barokah buat pernikahan bapak ini. Saya akan menunggu disini, tidak akan pulang sebelum Bapak dan Ibu selesai membagikannya.”


Tak berfikir lagi, mereka setuju. Mereka siap melakukannya. Ketiganya segera keluar rumah berjalan kaki beriringan. Sebuah pamandangan yang sangat indah sedang berlangsung. Pihak keluarga semua dan beberapa tetangga menyaksikannya. Sebuah pengantin baru poligami, berjalan bertiga beriringan. Suami diiringi kedua istrinya yang tua dan yang muda, berbusana muslimah, berjalan kaki membagikan shadaqah berkeliling ke tetangga-tetangganya. Ustadz Ahmad tersenyum puas menyaksikan shooting itu. Keluarga yang dirumah pun sama, senang dan gembira dengan pemandangan itu. Mereka semua menyaksikan dengan tersenyum pengantin hangat itu berjalan mesra sedang beramal atas dorongan Ustadz Ahmad. Semua berfikir, pastilah pengantin itu pengantin yang bahagia dan akan terus bahagia.


Setelah selesai semuanya, barulah Ustadz pamitan pulang. Pemandangan haru tak disangka terjadi lagi. Tak tahan “malaikat” itu akan pergi meninggalkan mereka, ketiga pengantin itu tanpa pikir-pikir memeluk Ustadz muda yang duda itu satu persatu sambil menangis. Mereka sangat sedih dengan kepulangannya. Pelukan itu kemudian diikuti oleh seluruh anggota keluarga yang lain, satu persatu. Tetangga-tetangga yang melihat adegan itu di halaman rumah Pak Hasan, kemudian pada datang dan memburu Ustadz muda itu. Mereka juga tidak ketinggalan, semuanya memeluk, sedih, mendo’akan, memuji dan ada juga yang meneteskan air mata.


Ustadz Ahmad segera menenangkan agar tidak sedih berlebihan. Ia menegaskan ia bukan siapa-siapa. Ia hanyalah orang biasa, kenapa harus sedih. Dan, ia pun toh hanya pulang ke sementara, nanti akan datang lagi. Yang datang, sedih, mengucapkan terima kasih dan menangisinya ternyata banyak sekali. Tetangga itu terus berdatangan satu persatu. Apalagi, jama’ah pengajiannya. Begitu mengetahui Ustadznya akan pulang mereka serentak saling memberi tahu, berkumpul dan menemuinya. Ustadz itu serasa menjadi selebriti. Ia merasakan haru dan sedih juga tapi harus pergi.

Ustadz itu mulai berjalan dan terus berjalan diiringi lambaian tangan masyarakat dan jama’ahnya. Ketika ia membalikkan badannya pada jarak sekitar 15 meter untuk melambaikan tangan terakhir sebelum ia belok, ustadz itu kaget juga, yang hadir dan melepas kepergiannya diperkirakan lebih dari seratus orang. “Masya Allah, banyak juga,” pikirnya. Ia terus berjalan.


Sambil berjalan, ia merenung, sungguh tak menyangka akan melewati peristiwa drama mengharukan itu. Semuanya terjadi mengalir begitu saja, diawali ketika Pak Hasan mulai curhat kepadanya. Seperti dalam pengajian-pengajian rutinnya, jawaban-jawaban pemecahan masalah itu datang otomatis begitu saja ke dalam hatinya saat Pak Hasan mulai bertanya mengadukan masalahnya. Sambil terus berjalan,“aaaakhh….” pikirannya menerawang, wajahnya menatap langit, kedua tangannya ia angkat ke atas, menarik nafas panjang, “Yaa Allah, terima kasih. Semuanya Engkau yang mengatur.”[]


Bandung, 8 Januri 2009
semoga bisa bermanfaat dan diambil hikmahnya,salam santun ukhuah fillah...silahkan saling berbagi dan saling bantu sesama teman yang membutuhkan

sakhura




Semilir angin berhembus lembut menabuh daun, mengiringi  ranting kecil pepohonan yang menari meliuk-liuk. Di langit, sinar mentari menelusup dari balik awan yang bergelayut. Menyapa ramah, kemudian mendekap hangat penghuninya.

Musim semi memang telah tiba. Tsukushi dan sumire juga tampak bermunculan di sela rerumputan. Kembali, ketakjuban bagi jiwa telah dibentangkan bahwa alam semesta turut tunduk dan patuh pada peran dalam setiap lakonNya. Di permukaan tanah, beragam warna bunga liar lain berpadu menghamparkan permadani indah. Sejuk mata memandang, jiwa seakan tak lagi dahaga.

Duhai...
Lihatlah pula sakura yang merekah di mana-mana. Kelopaknya berwarna putih, sedikit dihiasi semburat merah muda. Setiap tangkai itu sarat dipenuhi kuntum bunga hingga tampak berjuntaian ingin mencumbu tanah. Ketika angin menggoda, ia pun menggeliat manja.

Sakura di musim semi memang selalu menebar pesona. Kehadirannya tak pernah lupa dinantikan jutaan manusia di negerinya. Seperti biasa mereka duduk berkelompok di bawah pohon seraya menikmati keindahannya, bahkan tak peduli waktu siang atau malam. Tak jarang pula banyak yang bernyanyi-nyanyi atau sekedar mengabadikan kecantikannya. Memang sebuah fitrah bila manusia menyukai segala yang indah. Rasa ini akan membuahi putik-putik kasih, kemudian merekah menjadi bunga cinta yang bersemi di hati.

Indah...
Semua begitu indah mempesona. Sebuah kreasi di alam semesta yang menakjubkan dari Sang Pemilik Keindahan.

Namun, walaupun bunga sakura indah menawan, usianya tak pernah panjang. Satu persatu kelopaknya akan jatuh berguguran. Hanya berkisar selama dua pekan, punah lah semua. Pohonnya akan penuh daun saat musim panas, kemudian rontok ketika musim gugur menjelang. Sepanjang musim dingin, hanya dahan dan rantingnya yang tersisa. Sakura akan mekar ketika musim semi kembali tiba.

SubhanaLlah...
Tidakkah bunga sakura yang merekah sebenarnya sebuah tausyiah bagi hati kita. Meski usianya begitu singkat, tak pernah menghalanginya untuk menebarkan keindahan yang dimiliki. Umpama sepasang kekasih yang telah menjalin ikatan suci, persembahan terbaik dan terindah selama hidup di muka bumi hanya tersaji untuk yang dicintai.

Bagai sakura yang telah menyandang keindahan selama mekar kuntum bunganya, bukankah seyogyanya juga manusia mesti memberikan yang terbaik sepanjang hidupnya. Tak henti menebarkan rasa cinta dan kasih sayang dalam segala akhlaq serta tingkah laku, hingga kematian itu nanti menghampiri kita. Karena sebagai insan kita tak pernah tahu hingga kapan umur ini diamanahkan.

Jikalau cinta bagi sakura adalah mekar mempesona ketika musim semi tiba, maka cinta bagi seorang hambaNya adalah senantiasa merundukkan hati dan raga. Pasrah, seraya meratakan kening pada hamparan sajadah. Meneteskan air mata kerinduan serta tak pernah lelah merengkuh dari Sang Pemiliknya.

Wallahu a’lamu bish-shawaab

Rabu, 04 April 2012

Tegarlah




Tegarlah saudaraku…bangunlah...bangkitlah…berjuanglah…
---------------------------------------------------------------------------



Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Banyak orang yang merasa lemah, dan selalu merasa tidak kuat menjalani hidup ini.

Pergilah ke pantai atau ke laut…

lihatlah batu karang yang selalu setia berada di tempatnya…

mungkin Ia adalah guru bagi siapapun yang merasa kurang “tegar”…

Sebuah karang yg selalu mendengarkan seruan ombak, dengan deburan yang selalu menghantam dirinya…

Ia tetap tegar tidak tergoyahkan, teriakan, ledekan, cemoohan serta terjangan deras dari Sang Ombak, Tetapi tidak membuat sang karang sakit hati..

Pujian, sanjungan dan kata-kata indah dari Ombak yang baik pun, tidak membuatnya tinggi hati… Ia tetap tersenyum dan menyapa mereka dengan ramah…….

kepada ombak di pagi hari selalu berkata: “Selama Pagi.. terima kasih kalian telah memandikan aku pagi ini….”

Kepada ombak di Siang Hari: “, terima kasih di siang yang terik ini, kalian telah membasahi aku…”

Kepada Ombak di malam hari: “walaupun aku merasa kedinginan, terima kasih karena kalian telah memberikan pukulan keras pada seluruh tubuhku, sehingga aku tetap merasa hangat, dan gelombang air yang menyelimuti aku, terasa sangat hangat… walau udaranya begitu dingin, terima kasih…….”

Walau tubuhnya perlahan mulai terabrasi, tetapi ia tetap berdiri tegar dan tersenyum pada gelombang ombak yg datang padanya, semua bebannya terbang bersama angin laut……..

Tegarlah saudaraku……. bangunlah… bangkitlah… berjuanglah…..keep spirit ...keep smile...keep istiqomah.......
salam santun....(^_^)

Jika anak titipan

 



      ~***~  Bismillahirrahmanirrahiim  ~***~


by:shalsyabela


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Jika Anak Adalah Titipan Allah

Jika anak adalah titipan, maka ia adalah titipan yang indah

Jika anak adalah titipan, maka semua yang bersamanya

adalah titipan

Jika anak adalah titipan, maka harta yang diberikan Allah

SWT untuk membesarkannya adalah titipan


Jika anak adalah titipan, maka suatu saat ia akan diminta kembali oleh yang menitipkan

Jika anak adalah titipan, maka ia adalah titipan yang

harus dijaga kondisinya agar Sang Penitip tidak kecewa

jika ia kembali



Jika anak adalah titipan, maka siapa kita yang memaksa

Sang Penitip untuk mempercayakan nya kepada kita

karena kita merasa sudah siap?

Jika anak adalah titipan, maka tugas kita untuk

memberikan yang terbaik untuk titipan ini

Jika anak adalah titipan, maka bersyukurlah yang

dipercaya untuk menjaga titipan ini




Jika anak adalah titipan, maka bersyukurlah kami yang

dipercaya untuk menjaga titipan ini

Jika anak adalah titipan berikan contoh yang benar dalam

mengisi kehidupannya.



“Karena Anak-anak bagaikan semen basah. Apapun yang jatuh kepadanya akan meninggalkan sebuah jejak.


”Karena Anak-anak kita akan melihat siapa diri kita melalui tingkah laku yg kita perlihatkan daripada nasehat yang kita berikan.


”Karena Anak-anak memang tidak begitu baik dalam mendengar nasehat kita sebagai orang tua, tapi mereka tidak pernah gagal dalam meniru apapun yang kita perlihatkan pada mereka dalam keseharian yang kita lalui.”.

Jika anak adalah titipan, subhanallah walhamdulillah

walaailaahaillaallahu allahuakbar!



Semoga kita semua mampu menjaga dan menjadi contoh

terbaik bagi anak anak kita.


silahkan yang berminat saling bantu tag sesama teman

tak lupa salam santun ana selalu...^_^

================================

Selasa, 03 April 2012

Al Kisah


::::Bismillahir rohmaanirrohim: :::


Assalamualaikum warokhmatullohi wabarokaatuh...


                           ::::"*Aku Tidak Nakal dan Tidak Bodoh Bunda*"::::



Di salah satu sudut
ruangan seorang gadis
kecil duduk sambil
menangis sendu.

Aku
mendekati dirinya,
namun si kecil ini tetap
menangis. Ku ulurkan
tanganku meraih
tangan mungilnya. Dia
menatapku, bola
matanya yang penuh
keluguan seolah
mengisyaratkan berjuta
cerita, cinta dan penuh
misteri. Aku membalas
tatapan wajah itu
dengan sebuah
senyuman, aku
meraihnya dan
memeluknya
.
“Gadis kecil kenapa kau
menangis?”

Dia tetap membisu yang
terdengar hanya tangis
kecilnya.

Tanganku meraih
wajahnya, dengan hati-
hati ku tatap matanya
dan aku memegang
muka yang penuh
keluguan itu seraya
membetulkan posisi
jilbabnya yang sedikit
miring.

“Bu Fida, apa Ais adalah
anak yang bodoh, apa
Ais anak nakal? Kenapa
bundaku sering
mengatakan kalau Ais
anak yang nakal dan
bodoh?”

Aku tersenyum..

” Ais
bukan anak nakal juga
bukan anak bodoh, Ais
anak sholihah dan anak
cerdas.. dan Bu Fida
yakin, Ais akan menjadi
orang yang hebat.

“Benarkan itu Bu
Guru?” tanya Ais
dengan penuh semangat
“InsyaAllah” jawabku
“Asalkan Ais mau
belajar giat mulai
sekarang, dan mau
berjanji dua hal pada bu
guru”

“Apa Itu Bu”

“Ais harus berjanji agar
senantiasa menjadi
hamba Allah yang
mencintai Allah dan
Rasulullah, baik dalam
keadaan senang
maupun sedih.. terus
berjanji agar Ais belajar
menjadi anak yang
berbakti kepada orang
tua.
. Apa Ais bisa?

Dengan air muka
bahagia Ais menjawab

InsyaAllah Bu Guru”

Akupun mengantarkan
Ais pulang kerumahnya.

Di sana seorang ibu
muda cemas menunggu
kedatangan buah
hatinya, air mukanya
menunjukkan
penyesalan terhadap
apa yang telah katakan
kepada buah hatinya.

Di peluknya putri
kecilnya tsb dan
kemudian
mengantarkanya ke
kamarnya, sedang aku
di persilahkan masuk ke
rumahnya.

Ibu muda
tersebut, menceritakan
banyak hal tentang
putrinya dan kenapa dia
sampai mengatakan
putrinya bodoh dan
nakal sehingga sikap Ais
sering dianggapnya
mengganggunya
terlebih disela-sela
kesibukkannya sebagai
wanita karir.

“Ibu.. Di dunia ini tak
ada namanya anak yang
bodoh ataupun nakal”
jawabku, “yang ada
adalah anak yang belum
di ketahui kemampuan
untuk di asah lebih
dalam. Bahkan
kenakalan yang ibu
katakan itu hanya
sebuah kamuflase agar
dia mendapatkan
perhatian lebih dari
Anda..”

“Memiliki kemampuan
yang berbeda dari apa
yang kita harapkan
bukan berarti dia tidak
berbakat, kita hanya
membutuhkan
kesabaran agar lebih
pro aktif mencari dan
menggali bakat
terpendamnya,
bukanlah sesuatu yang
bijak bila kita memaksa
kehendak kita karena
belum tentu kebutuhan
kalian sama.. Jadi tolong
hargailah itu.”

Ibu muda tersebut
terdiam..

“Sebaiknya apa yang
harus saya lakukan
untuk memperbaikiny
a”
“Banyaklah membaca
karena bagaimanapun
dunia kita dulu berbeda
dengan kebutuhan si
kecil karena kita hidup
dengan rentang waktu
yang beda. Jalinlah
komunikasi yang efektif
dengan si kecil supaya
kalian bisa saling
memahami kebutuhan
dan harapan di antara
kalian.

Terakhir
berdo’alah dan
jemputlah pertolongan
Allah.. insyaAllah
semuanya menjadi lebih
baik.

Maaf bu, saya
pamit dulu karena
sudah sore..”

Oleh : Sultan Achmad ,Jombang.

semoga bisa diaambil hikmah dari cerita di atas

buat kita calon orang tua ,,,janganlah pernah mengatakan atau memaki anak-anak kita kelak.Karena mereka jg punya perasaan yg sama dengan kita.




Bismillahirrahmaaniraahiim
_______________________


Bergembira dengan keduniaan adalah kegembiraan tingkat anak-anak, sedangkan
Bergembira dengan keimanan adalah kegembiraan orang-orang pilihan,
Kemuliaan yg berasal dari keunggulan dunia mudah sirna, sedangkan
Kemuliaan yg berasal dari keunggulan Iman tak lekang masa.


Sebaik-baik rezeki yang mengalir di dunia ini adalah Keimanan yang benar, akhlaq yang lurus, akal yang sehat dan fisik yang kuat. Sementara diluar semua itu hanyalah kesibukan


"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu (Al-Hadiid: 20)"


Tetapkan ukuran yang rasional akan kesibukan dan kesenangan dunia
Genggam dan tundukan !!! pergunakan hanya sebagai alat untuk meraih Cinta Sang Maha kuasa Allah Subhanahu Wa Ta'ala


Karena Nilai terbaik diri adalah Iman, dan upah untuk keimanan adalah keabadian nikmat
Surga... InsyaAllah....



     by:             _MFA_

IBU



Aku mempunyai pasangan hidup…
Saat senang..aku cari pasanganku..
Saat sedih..aku cari ibu..


Saat sukses..aku ceritakan pada pasanganku..
Saat gagal..aku ceritakan pada ibu..


Saat bahagia..aku peluk erat pasanganku..
Saat sedih..aku peluk erat ibuku..

Saat liburan..aku ajak pasanganku..
Saat sibuk..anak-ana k kuantar ke rumah ibu..

Selalu..aku ingat pasanganku..
Selalu..ibu yang ingat kepadaku..

Setiap saat..aku telpon pasanganku..
Kalau ingat..aku akan telpon ibu..

Selalu..aku belikan hadiah untuk pasanganku.
Entah kapan aku akan belikan hadiah untuk ibu..


Kalau kau sedang mendapat rezki dari gajian..bolehka h kau kirim uang untuk ibu..? Untuk menutupi kebutuhan ibu..? Karena ibu sudah tidak berpeluang lagi dan sudah tadak berdaya lagi untuk mencarinya…
Ibu tidak minta banyak nak..


Berderai air mata jika kita mendengarnya….

Padahal dulu ketika kita masih kecil..seberapa pun rezki yang didapat ibu selalu tertuju dari ingatan ibuku adalah untuk aku anaknya..
untuk anakku dan hampir semua yang didapat ib..untuk membahagiakanku dan membuatku senang…


Tapi ketika ibu sudah tiada….
Barulah hadir rasa sesal dan ucapan..Ibu aku RINDU…. AKU RINDUUU…. SANGAT RINDU….


Berapa banyak anak yang sanggup menyuapi ibu ketika ia sakit…?
Berapa banyak anak yang sanggup menyeka dan membersihkan muntah ibu…?
Berapa banyak anak yang sanggup mengganti lampin ibu…?
Berapa banyak anak yang sanggup membersihkan najis ibu…?
Berapa banyak anak yang sanggup membuang ulat dan membersihkan luka kudis ibu…?
Berapa banyak anak yang sanggup berhenti kerja untuk menjaga ibu…?
Berapa banyak anak yang bisa “tanpa rasa kesal, kasar dan bosan” untuk memberikan perhatian dan merawat ibu setiap hari…?

Dan
Berapa banyak anak yang bisa memandikan dan men-shalat-kan JENAZAH ibunya……????? Astaghfirullaah ….


jauhkan hamba dari segala perbuatan yang mengecewakan hati Ibuku dan apabila itu pernah terjadi bukakan pintu hati ibuku untuk memaafkanku…
Yaa Rabb. sesungguhnya ridha ibuku adalah ridha-Mu.



DI ATAS SAJADAH KUMENUNGGU_MU ♥♥



::Bismillahirro hmaanirrohim::

Kurindu cinta_Mu, kurindu kasih_Mu, kurindu setiap belaian lembut_Mu didalam hatiku yang gersang, adakah Engkau merindu aku ya Allah, kudatang pada_Mu hanya dengan secuil cintaku, kuingin segenap perasaanku hanya terpaut pada_Mu, tak bisaku menjauh dari_Mu, saat kujauh, saat kumelupakan_Mu, tersirat rasa pedih dihati, tak ada kedamainan didalam hatiku, kusangat merasakan kegelisahan dihati, menangis hatiku saat kurasakan diriku jauh dari_Mu, perih hatiku saat cintaku tak tertaut pada_Mu, kosong jiwaku saat tak ada Engkau.

Setiap gerak sholatku, setiap gerak langkahku, setiap gerak tubuhku, ku ingin hanya Engkau yang ada di ingatanku, kuingin hanya Engkau yang ada dihatiku, kuingin hanya Engkau yang ada didadaku, harapan yang aku miliki kuingin hanya Engkau yang mengetahui_Nya, setiap derita yang kualami kuingin hanya Engkau pelipur lara, setiap keluh kesah yang menghampiri kuingin hanya Engkau tempatku mengaduh, setiap kebahagiaan yang menyapa kuingin hanya Engkau yang menemani.

Dalam hati aku selalu berharap hanya pada_Mu, cobaan dan ujian yang telah Engkau titipkan, sangat bermakna dalam hidupku, aku dapat merasakan begitu besar kasih sayang_Mu padaku, aku sadar melalui cobaan itu Engkau menilai cintaku pada_Mu,

ya Allah ya Tuhanku, kutak ingin menduakan cinta_Mu, ku tak ingin berpaling dari_Mu, ku tak ingin lagi merasakan kehampaan dalam hidup ini, dulu aku kira memiliki seorang pendamping yang setia, memiliki sahabat yang setia dan baik adalah pelipur segala keresahan hati, tapi aku salah ya Allah, kini aku temukan jawabannya, bahwa hanya Engkau yang mampu menenangkan hatiku. Hanya Engkau yang mampu mengobati hatiku yang hampa.

Kehadiran_Mu dihatiku terasa indah, cinta_Mu padaku mendamaikan diriku, setiap kali mengingat Engkau, setiap kali menyebut dan mendengar nama_Mu, aku meneteskan airmata, begitu mulianya Engkau, memberiku kesempatan tuk mengenal_Mu dan mencintai_Mu .

Saat kumendengar orang lain menjelekkan nama_Mu dan mengingkari kasih sayang_Mu, perih hatiku mendengarnya, kuingin berteriak dan berkata pada mereka bahwa Engkau adalah kekasihku yang sangat mulia tak tertandingan kebesaran_Mu, mereka tak mengenal_Mu, kuingin memperkenalkan Engkau kepada mereka.

Ya Allah, temani aku disetiap saat, jangan biarkan aku menjauh dari_Mu, jangan tinggalkan aku lagi, tetaplah disisiku tuk selamanya, terangilah setiap langkahku, luruskanlah setiap niatku, ku tak ingin merasakan lagi kesepian karena tak ada Engkau disisiku, Engkaulah yang pantas kujadikan kekasihku penenang jiwaku.

Engkau telah setia menemaniku,

mendengar curahan hatiku,

berkeluh kesah dihadapan_Mu,

dengan sabar Engkau mendengarku,

dengan setia Engkau datang memenuhi panggilanku,

di atas sajadah kuserahkan segala cintaku,

diatas sajadah kita bertemu tuk berkasih sayang,

diatas sajadah Engkau setia menemaniku,

diatas sajadah Engkau datang memenuhi janji_Mu,

diatas sajadah aku menunggu_Mu

ya Ilahi Robbku….
Salam santun silahturrahmi


SIAPA YANG DITUNGGU UNTUK MERUBAH DIRI KITA???


----------------------------------------------------------------------


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Tidak ada satupun manusia di dunia yang mampu merubah keadaan seseorang. Akan tetapi orang yang bersangkutanlah yang merubahnya. Apakah ia ingin baik atau ingin buruk?! Semuanya tergantung pada usahanya.


QS. Ar Ra’d (13) : 11.

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”


Manusia diberikan oleh Allah akal pikiran yang berfungsi untuk memilih jalan hidup. Dari pikiran itu maka lahirlah visi. Manusiapun diberikan hati yang berfungsi untuk memutuskan. Situasi hati yang sedang kita alami disebut dengan mentalitas. Allah juga memberikan fisik yang berfungsi melakukan segala hal yang disebut sikap. Ini adalah kemampuan dasar yang ada pada manusia.

Pada diri manusia ada tiga hal yang bisa merubah dirinya menjadi apa yang ia inginkan. Tiga hal itu adalah akal, hati dan fisik. Dari akal akan lahir visi. Dari Hati akan lahir mental. Dari fisik akan lahir sikap.


Dalam kehidupan ini Allah telah memberikan pilihan-pilihan jalan hidup. Banyak orang yang gagal karena tidak mampu menciptakan pilihan. Kemampuan menciptakan pilihan  adalah kekuatan pertama yang dimiliki seseorang. Kemudian kemampuan itu didukung oleh hati dan fisiknya.


Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh manusia sangat dipengaruhi oleh keadaan psikologi, genetika dan sosial. Pendidikan  waktu masih kecil sangat berpengaruh dalam perilaku seseorang. Ketika sudah dewasa maka akan muncul sikap hasil didikan itu. Semuanya tergantung kepada orang tuanya. Ada seseorang yang pendiam, ada yang pemarah, ada yang ceria dan sebagainya. Perilaku orang tua sangat berpengaruh dengan pola dan tingkah laku anak-anak mereka. Rasulullah saw mengatakan sifat turunan sangat mempengaruhi orang.


Lingkungan juga berpengaruh dengan perilaku seseorang. Lingkungan mana yang ia tempati, maka ia seperti lingkungannya. Orang yang berada pada lingkungan pesantren cendrung rajin melakukan ibadah. Sementara orang yang berada di lingkungan orang-orang jahat, tentu ia akan cendrung ikut jahat juga. Jika tidak terlatih untuk berpuasa, maka pada bulan Ramadhan akan berat melakukan puasa.


Pemikiran sangat menentukan bagaimana sebuah tindakan akan terjadi. Pemikiran seseorang perlu diluruskan, agar ia berpikir kepada yang baik-baik. Ibnu Qayyim mengatakan, “Hati-hati terhadap lintasan pikiran yang melintas di pikiran anda” Awal dari semua yang kita lakukan berasal dari lintasan pikiran. Dari ratusan lintas pikiran pada setiap harinya, hanya satu atau dua yang sering terlintas. Semakin sering terlintas, lama kelamaan menjadi gagasan. Jika gagasan itu menguat lalu menjadi keyakinan. Keyakinan akan dapat berubah menjadi kemauan. Dengan kemauan inilah kita melakukannya.


Tindakan yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi sebuah kebiasaan. Lama-kelamaan kebiasaan yang dilakukan terus menerus menjadi watak. Karenanya Imam Ghazali menggambarkan akhlak sebagai tindakan yang muncul dari seseorang yang tidak didahului dengan proses berpikir.


Oleh karena itu jika kita ingin mengubah perilaku, dengan cara merubah cara berpikir. Jika kita sering berpikir kotor maka akan mudah melakukan tindakan yang kotor. Sebaliknya jika suka berpikir yang baik, maka akan mudah melakukan yang baik-baik.


Begitupun dengan cara setan mempengaruhi manusia pertama kali lewat lintasan pikiran. Kemudian lintasan hati. Saat semuanya sudah terprogram lama-kelamaan menjadi sebuah tindakan.


Itu sebabnya Al-Qur’an ketika ingin menyampaikan pengharaman khamar, yang pertama kali diubah adalah cara berpikir orang tentang khamar. 


Apabila ingin melakukan sesuatu dengan mudah, perlu  memiliki pengetahuan tentang sesuatu yang ingin dilakukan dan rasa cinta terhadap sesuatu. Kita harus menghidupkan pikiran yang baik-baik dalam diri. Kita juga harus memunculkan kecintaan yang kuat terhadap sesuatu yang ingin di capai. Sebaliknya membenci terhadap sesuatu yang tidak diinginkan.


 Wallahu’alam.

semoga bermanfaat,salam santun tuk smua sahabat...^_^