assalamu'alaikum sahabat fillah...
berdasarkan pelajaran dari Ibnu
Qayyim al-Jawziyyah itu, ada
sepuluh hal yang terbuang alias
menjadi limbah dari sosok-sosok
hamba-Nya yang lemah,
sebagaimana diri pribadi kita,
yaitu:
1. Pengetahuan, Terbuang
percuma ketika hanya sebatas
‘tahu’, tidak memperdalam agar
menjadi lebih paham, tidak pula
bertindak, tidak mengamalkan
pengetahuan tersebut, bahkan
tidak peduli pada orang lain
yang belum berpengetahuan.
2. Amalan kita, Ternyata bisa
‘terbuang’ jika dilakukan dengan
‘harap-harap pamrih’ alias tidak
tulus ikhlas.
3. Harta Kekayaan, memang
sudah pasti ‘terbuang’, tak dapat
dibawa mati. Namun bila uang,
status kedudukan dan memiliki
kekuasaan lalu dipergunakan
untuk kemuliaan Islam dan
ummat, dibelanjakan dengan
penuh manfaat, dan beragam
‘tabungan akhirat’, insya Allah
akan ‘bebas limbah’, yang
didapat adalah perbekalan buat
kehidupan akhirat.
4. Hati, hati kita terbuang karena
kosong, menjadi limbah ketika
jauh dari kasih sayang Allah
ta’ala. Seharusnya perasaan
kerinduan untuk senantiasa
pergi kepada-Nya, berada di
jalan-Nya dan perasaan damai
serta kepuasan, penuh
kesyukuran atas segala
peristiwa skenario-Nya.
Astaghfirrulloh, hati kita
dipenuhi kebimbangan,
kerinduan dengan sesuatu atau
orang lain.
5. Tubuh ini, jasad terbuang
sebelum ‘benar-benar terkubur’
karena kita tidak
menggunakannya untuk
beribadah, padahal semua
aktivitas si tubuh harus
diniatkan karena-Nya, sebagai
hamba Allah yang diciptakan
untuk beribadah kepada-Nya.
6. Cinta, jangan sembarang
melukiskan maknanya, cinta
emosional kita seringnya salah
arah dan menjadi limbah, bukan
cinta kepada Allah SWT, tetapi
cinta terhadap sesuatu, impian
nan berlebihan atau kepada
orang lain. Padahal duhai diri,
seharusnya cinta kepada-Mu
selalu diutamakan, cinta kepada
hal lain hanyalah nomor urut
sekian dan sekian, sebagai
sarana meningkatkan kualitas
kecintaan kepada Sang Maha
Cinta.
7. Waktu, ia termahal, dan paling
sering terbuang, tidak
digunakan dengan benar, lalu
berteriak, “Oh, bagaimana ini?
Adakah kompensasi untuk
penggantian waktu itu?
Bagaimana mengulang yang
telah berlalu?”. Duhai diri, tiada
hal yang bisa mengulangi waktu
—detik terus berdetak, mari
jalankan amanah, dengan
melakukan apa yang benar,
memperbaiki diri terus-menerus
untuk menebus perbuatan masa
lalu, kelamnya hal buruk semoga
tak terulang.
8. Akal kita, bisa jadi tiada guna
alias terbuang pada hal-hal yang
tidak bermanfaat, yang
merugikan masyarakat dan
individu, mencomot harta rakyat
ketika ‘berkolusi dan
memperkuat sindikat’, bukan
mengasah kecerdasan agar
membawa manfaat untuk izzah
ummat, bukan menjadikannya
sebagai sumber renungan dan
peningkatan kualitas diri.
9. Pelayanan atau service,
terbuang percuma ketika kita
melayani keluarga, teman-teman,
kerabat, dan sesama manusia
namun ternyata hal tersebut
tidak membawa kita makin
dekat dengan Allah, atau hanya
manfaat dunia ‘yang diimpikan’,
padahal kita adalah ‘pelayan’
Allah, hamba-Nya, yang
keseluruhan jiwa raga ini adalah
milik-Nya. Seringkali kita lupa,
merasa ‘sok hebat’ dengan
memerintahkan Allah untuk
selalu mengabulkan apa-apa
yang kita mau, Allah limpahkan
segala anugerah-Nya dari sejak
kita berada dalam kandungan
bunda, kalau banyak kesulitan
‘mengadu dan bersimpuh’ untuk
minta dimudahkan-Nya,
sedangkan kalau sedang
gembira, bersuka cita dalam
gelimang tawa tanpa
mengingat-Nya, dan kita makin
besar kepala,
Astaghfirrullohal’adzim…
10. Dzikir, yang kita ‘dzikir’-kan
itu terbuang kalau bukan
dzikrulloh, karena tidak
mempengaruhi kita, tak ada efek
buat jiwa kita. Padahal
seharusnya tatkala melihat
kebesaran-Nya, memandang
semua sudut alam-Nya,
merasakan angin sejuk dan
mentari nan hangat, dan
mempergunakan indera lainnya,
saat itu selalu ada dzikrulloh,
dzikir kepada Sang Maha Kuasa
tentu menentramkan jiwa,
membuahkan kedamaian.
"Allah mempersiapkan
pengampunan dosa dan
ganjaran yang mulia bagi kaum
muslimin dan muslimat yang
berdzikir." (QS. Al-Ahzab [33] :
35)
Semoga bermanfaat...salam dan senyum santun ana dipagi yg dingin ini tuk smua sahabat fillah ^__^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar